TELIKSANDI
NEWS TICKER

Angka Keramat Bernama KKM

Rabu, 24 Juli 2019 | 3:58 pm
Reporter:
Posted by: Telik Sandi
Dibaca: 84

 

Oleh
Wachid Pratomo, M.Pd
Pengajar di UST Yogyakarta

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) , mungkin diantara kita sering mendengar kalimat ini apalagi yang berprofesi sebagai pendidik pasti tidak akan asing dengan ini. KKM sendiri merupakan sebuah nilai batas minimal yang harus dilalui seorang murid agar dapat dianggap lulus disebuah mata pelajaran atau muatan pelajaran. KKM bervariasi besarannya tergantung dari tingkat kesulitan mata pelajaran yang dipelajarinya,semakin sulit sebuah pelajaran maka nilai KKM akan semakin rendah begitupun sebaliknya.

KKM sendiri dianggap sebuah angka menakutkan dan begitu keramat bagi peserta didik, mengapa saya katakan demikiaan sebab seorang peserta didik dianggap mampu dan lulus dalam mata pelajaran tertentu nilai yang dia dapatkan harus diatas KKM tersebut. Sebenarnya niatan pemerintah lewat kurikulum bagus dalam tataran instrumennya namun tidak seindah pelaksanaan dilapangan. Skenario dikurikulum adalah anak yang belum sampai nilai batas KKM maka guru harus mengadakan remidi dan pengayaan sehingga nilainya mencukupi atau malah diatasnya.

Sampai disini masih indah serta manis kedengarannya, namun berbeda jikalau sudah sampai tataran implemantasi lapangan. Guru yang akhir-akhir ini sudah terbelenggu dengan banyaknya tugas administrasi ditambah lelah dan penat dalam mengajar yang fullday school. Jangankan remidial dan pengayaan, mengajar sampai tuntas pun sudah sebuah pekerjaan yang berat terkadang.

Sehingga untuk memenuhi tutuntan kurikulum nilai disulap yang penting sesuai atau diatas KKM. Namun ini semua bukan seutuhnya salah guru, guru itu merupakan eksekutor dilapangan tugas utamanya mengajar dan mendidik kalaupun ada tambahan administrasi seharusnya yang sejalan dengan pekerjaaanya misalnya bahan ajar ,rpp ,silabus bukan mengurusi pajak, BOS, aset barang hilang dan tetek bengeknya bersifat administrasi.

Jikalau benar KKM mau diberlakukan sesuai kurikulum maka kurangi beban administrasi guru .biarkan guru hanya fokus mengajar dan mendidik sesuai tupoksinya, sehingga kalau ada anak yang nilainya dibawah KKM guru akan sigap menanganinya. Pendidikan Indonesia tergantung dari bagaimana menyinkronkan mindset pendidik, peserta didik, kurikulum berbasis konstekstual, dan para pembuat kebijakan.

Selama salah satu tidak sinkron maka pendidikan kita akan jalan ditempat dibuai mimpi indah masa depan. Semoga kedepannya KKM bukan lagi menjadi angka keramat yang menakutkan namun menjadi sebuah angka indah yang menyenangkan untuk digapai oleh peserta didik.

Share this:

[addtoany]

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *

AWPI PERS GUARD - TELIKSANDI.ID