TELIKSANDI
NEWS TICKER

Indonesia: Sibuk Membangun Lupa Berkebun

Senin, 17 Juni 2019 | 8:39 pm
Reporter:
Posted by: Telik Sandi
Dibaca: 77

 

Wachid Pratomo, M.Pd
Dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa 
Yogyakarta

 

OPINI
Tajuk yang saya tulis mungkin lumayan mengelitik bagi sebagian orang karena terkesan tidak begitu urgent, namun ada sebuah dorongan kuat untuk membuat sebuah referensi sederhana tentang Indonesia mendekati hari pahlawan 10 November 2018 nanti. Tujuan dari pembangunan yaitu tidak lain adalah menyejahterakan rakyat atau menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Indonesia yang terdiri dari pulau-pulau besar maupun kecil, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dan terdiri dari bermacam-macam suku dan kebudayaan. Tidaklah mudah bangsa Indonesia melaksanakan pembangunan dengan keadaan yang beranekaragaman. Tentu pembangunan tersebut harus disesuaikan dengan keadaan wilayah dimana pembangunan itu dilaksanakan.

Penduduk Indonesia tahun 2017 berjumlah 265 juta jiwa lebih, kekayaan alam melimpah ruah yang terbentang diseluruh nusantara. Hal ini merupakan suatu modal yang sangat penting bagi pelaksanaan pembangunan di Indonesia. Sumber daya manusia di Indonesia sangatlah besar dan sangat mendukung keberhasilan pembangunan.

Ditambah Nawacita Presiden Joko Widodo yang menggencarkan pembangunan disemua sektor terutama sektor pembangunan infrastruktur meliputi pembangunan jalan tol, jalan raya, jembatan, tapal batas wilayah negara. Dengan harapan pembangunan tersebut akan memacu tingkat ekonomi dan pemerataan ekonomi bagi rakyat disemua wilayah Indonesia.

Harapan dan tujuan Presiden Joko Widodo memang benar dan perlu mendapat apresiasi yang luar biasa. Namun perlu kita ingat Indonesia merupakan negara agraris yang mempunyai cita –cita menjadi negara swasembada pangan dan negara gemah ripah loh jinawi. Tentu masih kita ingat kapan terakhir kali kita bangga dengan menyandang negara berswasembada pangan.

Pembangunan disemua sektor memang perlu digencarkan, tetapi jangan melupakan salah satu tulang punggung peradaban suatu bangsa adalah sektor pertanian. Kenapa saya menyimpulkan demikian, karena sehebat apapun negara serta sekuat apapun negara pasti membutuhkan makan dan pangan diperoleh dari sektor pertanian.

Pertanian menjadi sangat penting bagi sebuah negara dengan bentang alam yang luar biasa seperti Indonesia. Namun permasalahan bidang pertanian tidak kalah berat dibandingkan dengan bidang yang lain Bukan masalah SDM yang kurang, namun lihat lahan pertanian kita yang semakin hari kita sadari atau tidak sudah berubah menjadi pertokoan, menjadi perumahan serta yang paling mengerikan pemuda kita sudah tidak punya hasrat menjadi petani, maka tinggalah kaum petani “senior” saya memberi label penyebutan.

Tentu dari segi tenaga mereka sangat terbatas, kita lihat dipedesaan untuk mendapat seorang buruh tanam padi sudah sangat sulit karena kaum mudanya memilih bekerja dibidang industri.
Gayung bersambut dengan masalah minat pemuda menjadi petani, ketersediaan lahan pertanian di desa juga semakin miris. Lahan pertanian di desa rata-rata bukan milik petani lagi karena sudah dijual menjadi milik orang lain sehingga mereka hanya sebagi petani penggarap lahan saja.

Eloknya jalan dipedesaan sudah mulus luar biasa, gedung dan toserba sudah mewabah dipedesaan namun berbanding terbalik dengan keadaan petani serta lahan pertaniannya. Maka sudah saatnya kita mulai memikirkan sektor pertanian yang memberi andil besar dalam pembangunan kita. Agar anak cucu kita nanti bangga menjadi petani dan mengatakan saya seorang petani. Serta tidak terjadi hal yang ditulis dalam bait lagunya Didi Kempot berjudul suket teki “ tak tandur pari malah tukule kok suket teki”.(**)

Share this:

[addtoany]

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *

AWPI PERS GUARD - TELIKSANDI.ID