TELIKSANDI
NEWS TICKER

Sejarah Dan Rangkaian Beserta Makna (Filosofi) Hari Raya Galungan

Senin, 14 September 2020 | 11:14 pm
Reporter:
Posted by: redaksi redaksi
Dibaca: 14

Om Swatiastu,

BALI, JEMBRANA | Teliksandi.id Hari raya Galungan dan Kuningan pada umumnya dirayakan oleh Umat Hindu di Bali setiap 210 hari (6 bulan) yang selalu diwarnai kemeriahan karena dimaknai sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Namun di daerah lainnya di Indonesia meskipun beragama Hindu tidak dikenal adanya hari raya tersebut kecuali oleh umat Hindu yang berasal dari Bali. Seperti misalnya di negeri India, hari raya ini dari sisi nama juga tidak dikenal meskipun makna hari raya tersebut ada pada hari-hari suci yang diperingati di India.

Lalu, kenapa hari raya Galungan dan Kuningan hanya diperingati di Bali seperti yang kita laksanakan bahkan sebagai suatu rutinitas formal namun miskin pemaknaan !?

Umat beragama Hindu di Bali, pada umumnya setiap menjelang hari raya besar tersebut, telah terbayang sebelumnya akan kewajiban dan acara yang mesti dilakukan dan sepertinya telah terformat sedemikian rupa. Bahkan, sejak kecil hal-hal itu saja yang kita dengan dan laksanakan akan tetapi tanpa mampu mengungkap makna lebih jauh kenapa mesti kita harus merayakannya seperti itu. Sampai kita sudah dewasa misalnya sudah berumur 40 tahun, kemudian jika dibagi 210 hari (6 bulan Bali) maka sesungguhnya kita telah melewati hari raya Galungan dan Kuningan sebanyak kurang lebih 69 kali. Bila kita mencoba untuk mengevaluasi diri dengan menanyakan kepada diri sendiri, apakah ada perubahan pemahaman atau pelaksanaan dan prilaku yang lebih baik. Jawabannya kita sendiri yang tahu !?

Kalau boleh kita akui sejujurnya, kebanyakan dari kita cuma memahami hari raya keagamaan secara Gugon Tuon yakni Mula Keto (Memang Demikian), yang selama ini kita laksanakan dengan semarak namun miskin akan makna, hingga hal inilah yang mendorong saya untuk mencari makna apa yang tersimpan di hari raya tersebut.

Dari berbagai perenungan yang mendalam, kemudian penulis menemukan jawaban meskipun jawaban ini hanya berupa bisikan hati yang sifatnya personal dan membuka peluang besar bagi para pembaca untuk mengkoreksinya.

Pada akhirnya setelah apa yang saya dapat renungkan sampailah pada suatu kesimpulan bahwa para Leluhur kita begitu hebatnya dalam membumikan ajaran agama dengan harapan agar ajaran agama dapat dilaksanakan oleh umat manusia dalam berbagai tingkatan perkembangan kesadaran baik bagi para pemula yang baru mengenal agama sampai pada tingkat kesadaran yang paling tinggi. Dimana hari raya Galungan dan Kuningan hanyalah berupa sistem pembelajaran yang secara rutin yaitu setiap 210 hari (6 bulan) demikian akan selalu diulangi yang pada akhirnya diharapkan agar umat manusia menyadari dirinya untuk apa dilahirkan seirama dengan perpanjangan usianya sampai ajalnya dijemput.

Sebelumnya saya minta maaf kepara para bijak, Tokoh-tokoh Agama, para Sulinggih maupun mohon ampun kehadapan Ida Bathara-Bathari, Leluhur dan Bethara Kawitan, Dewa-Dewi dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, apabila apa yang penulis paparkan di bawah ini jika nantinya pemahaman menemui suatu kesalahan atau kekeliruan karena semua uraian di bawah ini muncul dari bisikan hati dengan sendirinya setelah penulis sedikit menekuni sepiritual akan makna kehidupan, hingga artikel ini mendesaknya untuk ditulis.

Dengan demikian, atas segala kekurangan saya miliki berdasrkan niat yang tulus saya memberanikan diri untuk memaparkan Sejarah, Makna dan Rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan dalam bentuk tulisan, sebagai berikut :

1. Sejarah Hari Raya Galungan.

Sejarah hari raya Galungan sesungguhnya berawal dari kepercayaan umat Hindu di Bali akan legenda dimana zaman dahulu berkuasalah seorang Detya atau Ashura (Raksasa) bernama Maya Denawa ialah seorang bhakta Dewa Siwa yang sangat tekun dan dengan memuja keagungan Dewa Siwa, ia memohon kekuatan agar mampu melakukan perubahan wujud. Disanalah Dewa Siwa kemudian berkenan hadir dan mengabulkan keinginan Detya Maya Denawa, hingga akhirnya Detya Maya Denawa menjadi sangat sakti dan mampu melakukan perubahan wujud bahkan hingga seribu kali perubahan.

Berikut, dengan kemampuan itulah raksasa ini menjadi sombong dan menguasai daerah Bali dan sekitarnya. Dimana saat itu tidak ada seorangpun yang mampu untuk mengalahkanya.

Kemudian tersebut keberadaan seorang pendeta bernama Mpu Kulputih, dimana beliau yang sangat prihatin melihat kondisi rakyat seperti itu, akhirnya beliau melakukan Dewa Sraya dengan cara bersemedi (meditasi) di Pura Besakih guna memohon petujuk para Dewa untuk mengatasi Maya Menawa.

Melihat ketulusan Mpu Kulputih dalam meditasinya, akhirnya Dewa Siwa (Maha Dewa) kemudian brkenan hadir dan memerintahkan Dewa Indra dengan pasukan Kahyangan Indra Loka untuk melawan Maya Denawa.

Singkat cerita, tepat di hari Selasa Wage wuku Dungulan bantuan pasukan datang dari Kahyangan dipimpin oleh Dewa Indradatang untuk memerangi Detya Maya Denawa. Namun Maya Denawa sudah mengetahui kedatangan pasukan ini berkat banyaknya mata-mata dan perang dashyat pun terjadi dengan korban berjatuhan di kedua belah pihak.

Dalam peperangan, pasukan Mayadenawa akhirnya kocar-kacir dan melarikan diri, akan tetapi Maya Denawa belum mau menyerah begitu saja. Dimana pada malam hari di saat jeda perang, Maya Denawa diam-diam menyusup ke tempat pasukan kahyangan dan memberi racun pada sumber air mereka. Agar tidak ketahuan, Maya Denawa berjalan hanya dengan menggunakan sisi kakinya dan tempat inilah yang kemudian dikenal dengan Tampak Siring.
Akan tetapi, kelicikan Maya Denawa kemudian diketahui oleh Dewa Indra sehingga beliau menciptakan mata air baru yang sekarang dikenal dengan Tirta Empul dan berkat Tirta Empul inilah semua pasukan yang keracunan bisa pulih kembali.

Selanjutnya, Dewa Indra mengejar Maya Denawa yang melarikan diri dengan pembantunya. Dalam pelarian, Maya Denawa sempat mengubah wujudnya menjadi Manuk Raya (Burung Besar) dan tempatnya berubah wujud sekarang dikenal dengan Desa Manu Kaya. Namun Dewa Indra terlalu sakti untuk dikelabui sehingga selalu mengetahui keberadaan Maya Denawa walaupun sudah berubah wujud berkali-kali. Sampai akhirnya tepat disaat fajar menyingsing di hari Rabu Kliwon wuku Dungulan Dewa Indra mampu membunuh Maya Denawa hingga jagat Bali kembali pada kedamaiannya dan para pasukan Kahyangan di bawah pimpina Dewa Indra kembahli ke Indra Loka. Adapun darah Maya Denawa mengalir menjadi sungai yang dikenal dengan Tukad Petanu. Sungai ini konon telah dikutuk, dimana bila airnya digunakan untuk mengairi sawah, padi akan tumbuh lebih cepat namun darah akan keluar di saat panen dan mengeluarkan bau serta kutukan itu akan berakhir setelah 1000 tahun.

Pelaksanaan hari raya Galungan ini ditegaskan dalam lontar Purana Bali Dwipa, dimana hari raya Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) pada tahun 882 Masehi atau tahun Saka 804. Dimana dalam lontar tersebut diuraikan :

Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.
Artinya :
“Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, wuku Dungulan sasih Kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka”.

Demikianlah, kemudian setiap 210 hari yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan) umat Hindu merayakan hari raya Galungan sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan).

Namun entah atas dasar pertimbangan apa, mulai tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.

Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun – (Lontar Sri Jaya Kasunu). Dimana dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jaya Kasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jaya Kasunu melakukan Drwa Sraya dengan cara besamadhi (meditasi) di Pura Dalem Puri (tak jauh dari Pura Besakih) untuk memohon petunjuk dari Ida Sang Hyang Widhi.

Karena kesungguhan Raja Sri Jaya Kasunu dalam melakukan Dewa Sraya, disinilah Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Dewa Siwa menemui Sakti-Nya. Sakti ini adalah kekuatan (energi) dari para Dewa yang diesensikan dalam wujud Dewi, dimana Sakti dari Dewa Siwa disini dinamakan Dewi Dhurga (Hyang Nini di Pura Dalem).

Setelah beliau bertemu, Dewa Siwa bersabda : “Wahai Hyang Nini Dalem, Aku menitahkan-Mu, Engkau (Hyang Nini) berhak memberkati segala doa Raja Sri Jaya Kasunu, karena mereka sangat tekun melakukan Dewa Sraya dan Hyang Nini berhak mengabulkan segala permintaannya. Lalu Hyang Nini berkata kepada Dewa Siwa : “Jika itu perintah Dewa, hamba menuruti titah Dewa.” Setelah itu Dewa Siwa kembali menuju alam Siwa (Siwa Loka).

Kini diceritakan Hyang Nini Dalem (Dewi Dhurga) hadir di hadapan Raja Sri Jaya Kasunu dengan maksud memberikan anugerah, karena telah direstui oleh Dewa Siwa. Raja Sri Jaya Kasunu segera menghormat kepada Hyang Nini kemudian berkata : “Wahai Raja Sri Jaya Kasunu, Aku adalah Sakti yang merupakan sumber kekuatan (energi) dari para Dewa ialah manifestasi dari Hyang Widhi (Tuhan) sebagai pencipta, pemelihara dan peleburan alam semesta beserta isinya, yang diesensikan dalam wujud Dewi dinamakan Dewi Dhurga (Hyang Nini di Pura Dalem) sebagai Sakti dari Dewa Siwa. Telah cukup lama engkau berada disini melakukan Dewa Sraya, apakah yang engkau harapkan !?” Raja Sri Jaya Kasunu kemudian memohon petunjuk, tentang apa penyebab para pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Dewi Dhurga selanjutnya menjelaskan kepada raja bahwa “leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan”. Karenanya, Dewi Dhurga meminta kepada Raja Sri Jaya Kasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku.

Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Penjor adalah symbol Gunung atau Naga yang merupakan symbol ketinggian atau kebesaran dan kesejahteraan. Dalam hal ini dilambangkan sebagai symbol gunung Agung yang erat kaitannya dengan legenda Naga Basuki sebagai filosofi mengagungkan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena telah menganugerahkan kejejahteraan kepada umat.

Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan Beyakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Bhuta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya, karena saat hari Galungan kita didatangi oleh Kala Tiganing Galungan. Dalam hal dalam peperangan dimaksud, bukan saja melawan musuh berbentuk fisik, tetapi juga melawan diri sendiri terutama kala keletehan artinya berjuang atau berperang antara Dharma untuk mengalahkan Adharma. Sebab adanya Sang Kala Tiga dimaksud ialah Sang Bhuta Galungan, Sang Bhuta Dungulan dan Sang Bhuta Amangkurat adalah symbol dari keletehan dimaksud, yang jika dibahas sebagai berikut :

a. Hari Pertama = Sang Bhuta Galungan. Galungan disini berarti berperang/ bertempur. Berdasarkan ini, boleh kita artikan bahwa pada hari Redite Pahing Dungulan kita baru kedatangan bhuta kala yang menyerang (kita baru sekedar diserang).

b. Hari Kedua = Sang Bhuta Dungulan. Ia mengunjungi kita pada hari Soma Pon Dungulan keesokan harinya (Kata Dungulan berarti menundukkan/ mengalahkan).

c. Hari Ketiga = Sang Bhuta Amangkurat. Saat hari Anggara Wage Dungulan kita dijelang oleh Sang Bhuta Amangkurat (Amangkurat sama dengan menguasai dunia). Dimaksudkan menguasai dunia besar (Bhuwana Agung) dan dunia kecil ialah badan kita sendiri (Bhuwana Alit).

Pendeknya, mula-mula kita diserang, kemudian ditundukkan, dan akhirnya dikuasai. Ini yang akan terjadi, keletehan benar-benar akan menguasai kita, bila kita pasif saja kepada serangan-serangan itu. Dalam hubungan inilah Sundari-Gama mengajarkan agar pada hari-hari ini umat den prayitna anjekung jnana nirmala, lamakane den kasurupan. Hendaklah umat meneguhkan hati agar jangan sampai terpengaruh oleh bhuta-bhuta (keletehan-keletehan) hati tersebut. Inilah hakikat Abhya-Kala (mabiakala) dan metetebasan yang dilakukan pada hari Penampahan dimaksud.

Semenjak Raja Sri Jaya Kasunu mendapatkan bisikan religius itu, setiap hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan, umat Hindu di Bali kembali merayakan Galungan dengan hikmat.

2. Rangkaian Hari Raya Galungan.

Agar tidak menjadi salah kaprah, disini penulis akan memaparkan rangkaian hari raya Galungan sesungguhnya dilaksanakan adalah selama 42 hari. Dimana dalam hitungan Kalender Bali, kurun waktu 1 bulan ialah selama 35 hari ditambah 7 hari hingga jumlahnya menjadi 42 hari dan selama kurun waktu 42 hari di sini dikatakan lamanya adalah a bulan pitung dina (1 bulan 7 hari) dan inilah dalam tradisi Hindu di Bali dikatakan ngawit (mulai) masa Uncal Balung yakni sejak hari (rahinan) Sugihan Jawa sampai hari Budha Kliwon wuku Pahang adalah berakhirnya masa Ucal Balung hingga sering disebut Pegat Wakan. Adapun rangkaian hari raya Galungan ini diuraikan dalam Lontar Sunarigama adalah selama dalam kurun waktu 42 hari ini mempunyai banyak rangkaian kegiatan baik sebelum maupun sesudahnya, sebagai berikut :

a. Sugihan Jawa.

Sugihan Jawa dilaksanakan pada hari Kamis Wage wuku Sungsang yakni 6 hari sebelum hari raya Galungan. Kata Sugihan berasal dari kata sugih berarti kekayaan dalam dalam diri yang berarti kewidyatmikan. Kemampuan untuk memahami sekaligus merasakan sesuatu secara bijak dan murni apa adanya tanpa muatan ego atau keakuan. Jawa yang berari Jaba yaitu di Jaba atau di Luar, di luar diri. Maka Sugihan Jawa kita dituntut mampu untuk memperlakukan segala sesuatu yang ada di luar diri secara bijak dan murni yaitu tulus ikhlas dan penuh kasih sayang, inilah yang disebut dengan tindakan Dharma. Tindakan Dharma adalah semua tindakan tanpa dilandasi rasa pamrih atau mengharapkan imbalan. Tindakannya spontan semata-mata karena kewajiban atau kehendak-Nya. Tindakan yang dilandasi dengan pamrih/mengharapkan imbalan termasuk mengharapkan Pahala disebut dengan Karma, karena semua karma pada akhirnya berbuah (Phala). Karma baik akan berbuah kebaikan demikian pula sebaliknya. Sedangkan tindakan dharma akan menuntun kita kearah pencerahan diri, yang sebelumnya gelap lama kelamaan menjadi terang. Ibarat logam yang sebelumnya berkarat kalau digosok terus akan mengkilap dan memantulkan cahaya. Cahaya inilah akan membuat terang baik bagi diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan dimanapun kita berada. Jadi pada saat Sugihan Jawa kita diharapkan mencapai tingkat kesadaran murni akan semua yang ada di luar diri. Dengan penghayatan bahwa Narayana Ewedam Sarwam yang secara harfiah berarti bahwa Beliau ada dimana-mana termasuk di dalam semua ciptaannya, maka kesadaran ini akan tumbuh. Hanya Nama dan Rupa atau Bentuk yang membedakannya namun esensinya tetap sama yaitu Beliau sendiri. Nama dan Rupa hanya konsumsi bagi pikiran yang sifat dasarnya selalu memberinya nilai. Kalau sudah menyangkut nilai maka hukum dualitas mulai berlaku yang mengaburkan nilai murninya, karena nilai adalah kesepakatan pikiran. Pikiran akan berkutat tetap di alam pikiran dan tidak akan mampu menjangkau Beliau karena Beliau sendiri Tak Terpikirkan. Secara sekala pada hari Sugihan Jawa umumnya kita melakukan upacara penyucian Bhuana Agung dengan berbagai bentuk upacara yadnya, namun sebagai filosofi pada Sugihan Jawa adalah bermaksud mensyukuri apa yang ada di luar diri dengan menjaga, memelihara, menyayangi, menghormati sekaligus menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis dengan berbagai bentuk/rupa yang yang ada di luar diri. Bila kita memancarkan cahaya cinta maka semuanya akan membalasnya dengan cinta dan kasih sayang. Pada hari Sugihan Jawa inilah dikatakan ngawit (mulai) Ucal Balung. Ucal Balung adalah penjabaran dari awal dan berakhirnya rangkaian perayaan hari Raya Galungan. Waktu yang disebut dengan Uncal Balung adalah mulai dari hari Sugian Jawa, dimana umat Hindu di Bali melakukan kegiatan etika dalam beryadnya selama dalam kurun waktu selama 42 hari (a bulan pitung dina) yakni sampai dengan Buda Kliwon Pahang disebut Pegat Wakan. Selama 42 hari ini kita khusus untuk melakukan kegiatan memuja Tuhan dalam manifestasi Sang Hyang Tunggal. Maka dari itu, untuk kegiatan upacara yang lainnya dilarang untuk melaksanakannya apalagi upakara manusia yadnya (pernikahan) hingga sehari setelah Uncal Balung kegiatan upakara yang lainnya baru dapat dilaksanakan kembali sebagaimana mestinya. Adapun nilai tattwa yang terkandung dalam Uncal Balung yang sering disebut dengan kemenangan Dharma melawan Adharma. Dengan membuang segala kotoran dalam diri manusia secara individu untuk meraih kecucian bahtin atas anungrah yang disebut Sang Hyang Tunggal. Istilah Uncal Balung tersurat dalam lontar Sundarigama, sebagai berikut : “Pegat Wakan berasal dari kata pegat artinya putus, palas, lepas dan Wak = raos, omongan sementara Balung = tulang serta Pahang = nama wuku ke 16”. Jadi Pegat Wakan dapat secara singkat diartikan adalah menyudahi pembicaraan, yang dalam hal ini pembicaraan tentang wuku Dungulan. Filosifinya adalah selama dalam kurun 42 hari yakni terhitung dari Sugian Jawa sampai dengan Buda Klion Pahang (Pegat Wakan) disebut Uncal Balung, adalah diberlakukannya hari-hari pantangan untuk melakukan upacara yadnya lainnyaagar kita terpokus merayakan hari yang dinyatakan sebagai kemenangan Dharma melawan Adharma.

b. Sugihan Bali.

Sugihan Bali jatuh setiap hari Jumat Kliwon wuku Sungsang, dimaknai sebagaimana juga pada hari Sugihan Jawa. Kata Bali berarti Kekuatan Yang Maha Sakti (Agung) dimaksud Ida Sang Hyang Widi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Makna ini tersurat dalam Rg Veda Kitab Satapatala Brahmana 11.5.6.1 ; Menawa Dharma Sastra III.70.74 dan 81 ; Itihasa dan Purana. Ritual (Yajna) mengagungkan Kekuatan Maha Sakti ini hingga sekarang masih kita gunakan dengan istilah Sembah Hyang (Sembahyang) atau Puja Wali (Puja Bali) – Dikutip dari ‘Buku Tatwa Liak” (Jro Mangku Suardana – Pasraman Sesepuh). Hingga pada Sugihan Bali kita diharapkan mampu meningkatkan kesadaran atau sradha kita kepada Tuhan. Dimana berdasarkan konsep Bhuana Alit bahwa Tuhan juga ada dalam diri sendiri ialah Atman, maka sudah tuntunya diawali melakukan pembersihan penyucian) diri biasanya melakukan Pengelukatan. Dalam mengetahui siapa sebenarnnya diri kita (jati diri), dalam kitab-kitab Veda dijelaskan bahwa tubuh kita terdiri dari 3 (tiga) dimensi nama dan rupa yaitu :

1) Badan Raga yang dapat dilihat dengan kasat mata yang bisa merasakan lapar, sakit atau segar bugar.

2) Badan Jiwa yang tidak kasat mata dengan mata biasa tempat bersemayamnya pikiran, ego, rasa dan buah karma. Badan ini dapat merasakan sakit yang disebut dengan sakit jiwa (atma). Dalam badan ini, meskipun badan raganya sudah ditinggalkannya badan ini tetap memiliki kesadaran jiwa dan berproses mengikuti siklus reinkarnasi.

3) Badan Atman/Roh yang merupakan jati diri yang sebenarnya yang diliputi kesadaran yang murni yaitu Tuhan sendiri.

Setiap badan mempunyai susunan cakra yang berbeda-beda. Bila kita sudah mampu mengatifkan cakra badan, kita belajar akan ilmu kekebalan yang membuat tubuh sehat dan seimbang secara lahir. Bila sudah mampu mengatifkan cakra jiwa kita akan belajar ilmu kebathinan untuk ketenangan yang sifatnya bathiniah, dan bila cakra Atman/Roh yang diaktifkan maka kita akan belajar diri murni yang sejati yang menyangkut kebebasan akan keterikatan duniawi. Disini juga kita akan menemukan adanya Tuhan dalam Diri (Widhi ada di Dewek) – Dikutif dari Buku Tatwa Liak (Jro Mangku Suardana – Pasraman Sesepuh). Kekuatan cakra badan adalah ibarat air. Bila kita mempunyai sebotol air dan kita berikan kepada orang lain maka kemungkinan air itu akan habis dan kita sendiri menjadi kelelahan dan mengumpulkan air kembali. Kekuatan cakra jiwa ibarat api yang dalam badan disebut Kundalini. Bila besar api sebesar api lilin kita berikan kepada orang lain sebanyak berapapun maka api itu tidak akan pernah habis, namun besar api lilin tetap seperti semula sebelum diberikan kepada orang lain. Kekuatan cakra atman/roh ibarat cahaya / sinar (Suar) yang merupakan sifat dari energi atau kekuatan (sakti) , bila cahaya ini diberikan kepada orang lain maka muncul pantulan/sumber cahaya di tempat lain dan membuat kegelapan semakin terang. Semakin banyak diberikan kepada orang lain maka sumber sinar akan semakin membesar dan membuat terang benderang. Itulah tingkatan berbagai kesadaran, dan pada hari Sugihan Bali kita diharapkan mampu mengevaluasi diri sejauh mana sudah menggapainya untuk selanjutnya mencoba membuat target kesadaran mana yang akan dituju. Sehingga secara sekala pada hari Sugihan Bali umumnya umat sedharma melakukan penyucian diri dengan berbagai ritual seperti mandi suci atau melukat, metirta yatra ataupun dengan berpuasa dengan berbagai tingkatan puasa maupun dengan cara-cara lainnya. Demikianlah makna Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, bukan berarti Sugihan Jawa milik (berlaku) bagi orang-orang Bali yang leluhurnya berasal dari Jawa (luar Bali dan Sugihan Bali bukan berarti hanya berlaku (milik) masyarakan Bali yang leluhurnya asli Bali (Bali Aga).

c. Penyekeban atau Penapean.

Penyekeban atau Penapean jatuh setiap hari Minggu Pahing wuku Dungulan. yang asal katanya sekeb berarti dieram dan tap (tape = tapa) berarti yang sesungguhnya berarti panas ialah merupakan sifat dari api ialah energi / tenaga (kekuatan). Seperti nyekeb buah pisang atau umbi ketela pohon agar menjadi matang. Pada hari ini diharapkan kita mampu nyekeb kesadaran murni sebagaimana diuraikan pada Sugihan Bali. Tat kala kesadaran murni mampu kita rasakan maka pada hari penyekeban dituntut selalu dapat menjaga diri (pegendalian) terutama pikiran agar tidak terpengaruh dengan hal-hal yang membuat kesadaran murni tersebut sirna kembali. Pada hari penyekeban ini juga difilosofikan kita mampu membangkitkan energi (kekuatan) agar selalu dapat menjaga pikiran positif, karena berawal dari pikiran inilah yang nantinya akan mempengaruhi segala kesadaran perkataan dan perbuatan dalam menyambut datangnya hari raya Galungan. Salah satu cara untuk mengendalikan pikiran adalah dengan secara terus menerus fokus pada apa yang kita sedang lakukan. Jangan sampai kita sedang bekerja di tempat kerja namun pikiran kita berada di rumah. Itu artinya pikiran kita sedang jalan-jalan dan atman/roh kitapun akan mengikutinya dengan setia kemanapun pikiran sedang pergi yang berarti pula badan raga kita ibarat rumah tanpa penghuni yang gampang dimasuki oleh hantu maupun kekuatan lainnya yang menjadikan tubuh kita mudah terserang penyakit.

d. Penyajaan.

Dilaksanakan setiap hari Senin Pon wuku Dungulan. Dimana dalam bahasa Bali bahwa kata penyajaan berasal dari kata sajaan berartu sungguh-sungguh. Maka saat hari Penyajaan ini bermakna bahwa kita telah berniat dengan segenap hati (sungguh-sungguh) atai benar-benar siap dalam mlaksanakan hari kemenangan Dharma (kebaikan) ini. Umat Hindu di Bali, saat hari Penyajaan ini dilakukan dengan tradisi jajan sebagai kelengkapan dalam pembuatan sesajen atau upakara sebagai upaya kesungguhan dalam menyambut hari raya Galungan. Jajan sebagaimana kita ketahui umumnya terbuat dari tepung baik bahan dasarnya beras, ketan maupun terigu atau bahan pangan lainnya. Setelah tepung diolah sedemikian rupa barulah dibentuk sesuai dengan yang diinginkan kemudian baru dimatangkan. Filosofi dari penyajaan disini kita dihimbau dapat dengan sungguh-sungguh menyatakan bahwa kita telah memiliki energi atau kekuatan guna dapat menaklukkan berbagai bentuk produk dari pikiran seperti yang bersifat panas seperti rasa keakuan/ego, nafsu birahi, amarah, kebencian, irihati, ketamakan dan berbagai bentuk keterikatan akan duniawi. Pada tahap ini diharapkan mampu membedakan mana aku yang sebenarnya (diri murni) dan mana pikiran. Ini memang sulit, namun yakinlah kita sedang dalam proses. Suatu saat bila kita latih dan lakoni secara terus menerus di bawah bimbingan orang bijak (Guru/Nabe) yang tepat, maka pada tahapan ini Tuhan pasti memberi jalan bila kita bersungguh-sungguh. Adapun cara membedakan mana pikiran dan mana tidak pada tahap dasar adalah dengan memahami dengan benar dan melakoninya mana itu kebutuhan dan mana keinginan. Contoh kecil kalau lapar butuh makan, apapun yang membuat kenyang perut dan tidak lapar itulah kebutuhan. Demikian sebaliknya kalau belum makan Gulai dan Sate Kambing baru merasa kenyang itulah keinginan. Jadi yang lapar bukan perutnya melainkan lidah dan mulutnya. Tubuh butuh pakaian untuk melindungi tubuh dari kedinginan/kepanasan dan kemaluan, sepanjang itu bersih dan bentuknya sopan sebenarnya sudah cukup, lain halnya kalau belum menggunakan merk ternama rasanya belum berpakaian. Banyak lagi contoh untuk membedakan pikiran yang banyak maunya dengan diri murni yang hadir apa adanya. Mengikuti pikiran akan melahirkan keterikatan dan bila mengikuti diri murni akan melahirkan pembebasan akan keterikatan duniawi. Musuh utama kalau sudah begini adalah pujian, semakin senang kita dipuji maka kita semakin dikuasai pikiran dan membuat kita akan sengsara. Mohon disadari apapun yang kasat mata yang kita saksikan di dunia ini semuanya belum pantas untuk dipuji, hanya satu yang pantas untuk dipuji yaitu Tuhan sendiri. Kalau kita senang dipuji berarti kita telah merampok hak Tuhan. Kalau kita dipuji ada baiknya kita sampaikan Suksma semoga Tuhan memberkatinya dan saudara kita yang beragama Islam menyebut Alhamdullillah yang artinya hanya Allah yang mempunyai hak terpuji. Himgga disini, suka dipuji akan menyuburkan rasa keakuan dan kita akan dikendalikan oleh pikiran dan kesadaran murni akan semakin sirna. Demikianlah tantangan pada hari Penyekepan atau Penapean ini, kita diharapkan telah mampu mempertahankan (mnegerm) kesadaran diri murni dan membedakan mana pikiran dengan berbagai produknya dan mana diri kita yang sebenarnya, ibarat akan maju perang maka kita terlebih dahulu harus mengenali dengan baik mana teman dan mana lawan / musuh.

e. Penampahan.

Dilaksanakan setiap hari Selasa Wage wuku Dungulan, dimana pada hari Penampahan dalam bahasa Bali berarti tampa / nyanggra (menyongsong). Maka dalam pada hari Penampahan ini umat Hindu dinyatakan telah siap untuk merayakan hari raya Galungan. Pada hari ini umat se-Dharma secara umum memotong hewan Babi dan diolah ke dalam berbagai bentuk masakan, seperti Lawar, Komoh, Sate, Penyon, Tum, Remikan, Urutan dan lain-lainnya untuk di konsumsi bersama keluarga dan saling Ngejot dengan saudara maupun tetangga. Disamping itu pula juga dipakai pelengkap sesajen khususnya yang dihaturkan ke Teben (Banten Teben) agar tidak diganggu oleh Sang Kala Tiga Galungan. Beberapa tempat juga dihaturkan kepada Leluhur, Bethara Hyang dan Bethara-Bethari. Pada hari ini dalam seharian perut kita dimanjakan dengan berbagai bentuk masakan yang pada umumnya berasal dari daging Babi. Ini sudah mentradisi bagi penulis semenjak ingatan terekam di memori otak memang sudah seperti itu sampai sekarang dan muncul pertanyaan kenapa bukan daging yang lainnya kenapa mesti daging Babi. Apa makna hewan babi dan apa makna penampahan galungan dan apa sekedar persiapan konsumsi untuk hari raya Galungan besok harinya ? Berbagai pertanyaan muncul bila menjelang hari Penampahan Galungan. Akhirnya setelah penulis belajar sedikit sepiritual dan menanyakan kepada Guru, beliau mengatakan bahwa hewan Babi secara universal disepakati sebagai simbul kebodohan atau kemalasan sebagaimana sifat-sifat Babi kalau didorong disuruh maju malahan dia mundur, namun tat kala kita hadang dari depan malahan menggigit. Kalau kenyang dia tidur dan kalau lapar dia ribut minta makanan, maunya cuma makan dan tidur. Nah kalau sifat ini dimiliki manusia ia akan malas cuma mau enaknya saja, disuruh maju malahan dia mundur dan bila dituntun dari depan disuruh mengikuti malahan tidur, bila dimarahi dia akan mencelakai. Hingga disini, penulis memaknai bahwa pemotongan hewan babi tat kala Penampahan Galungan adalah sebagai simbul kita melawan kebodohan dimana kebodohan yang dimaksudkan adalah berbagai bentuk karya pikiran yang bertentangan dengan sifat-sifat Diri Murni / Atman / Roh atau merupakan bagian sifat-sifat dari kaum Detya atau Ashura (Raksasa). Itulah sasaran utama yang harus kita capai pada hari Penampahan Galungan, diharapkan kita telah siap menyongsong hari yang secara umum dimaknai sebagai pertempuran antara Dharma melawan Adharma. Mampu menguasai pikiran yang sebelumnya pikiran yang mengendalikan kita maka pada hari itu telah berbalik yaitu kitalah yang mesti menguasai pikiran sekaligus mengendalikannya. Jadi kita ambil alih tongkat komando dan sebagai simbul kemenangan ini pada sore harinya kita pancangkan Penjor sebagai simbul kemenangan dan natab banten Penampahan Galungan sebagai wujud bersyukur kita telah dibebaskan dari segala kebodohan, ketamakan dan kemalasan.

f. Galungan.

Sehari setelah hari Penampahan Galungan yaitu pada Hari Rabu (Bude Keliwon, Wuku Dunggulan) umat sedharma merayakan hari raya Galungan, yang selama ini dipahami sebagai hari kemenangan Dharma melawan Adharma. Disini, sebelum matahari terbit para Ibu-ibu sibuk menghaturkan sesajen mulai dari tempat ibadah yang ada di rumah sampai kahyangan Desa, hingga sampai di pura Swagina misalnya pura Subak, Kantor maupun tempat-tempat lainnya bahkan ada yang sampai di pura Dang Kahyangan maupun Sad Kahyangan dimana kita memohon kerahayuan. Semua anggota keluarga melakukan persembahyangan bersama diawali dari tempat pemujaan para leluhur baik di Pemerajan, Pura Dadia maupun Pura Kawitan lainnya sebagai wujud syukur. Tradisi tersebut telah menjadi kebiasaan bila saatnya hari raya Galungan tiba, yang lama kelamaan dikhawatirkan pelaksanaannya secara ritual begitu semarak namun miskin akan makna. Ditambah lagi prilaku generasi kita belakangan ini lebih mementingkan seremonialnya dari pada upaya peningkatan kwalitas diri. Hal ini terlihat dimana beberapa hari menjelang hari raya Galungan, sebagian besar generasi kita justru membuka Bazar berkedok penggalian dana. Namun apa yang sebagian besar makna yang didapat hanyalah merupakan acara hura-hura dengan mengadopsi budaya asing. Belakangan ini bukannya nyanyian rohani yang berkumandang saat hari raya Galungan, malahan musik-musik barat yang kadang-kadang membuat telinga kita terasa budek mendengarnya. Melirik hal tersebut, sepertinya nilai-nilai luhur sepiritual yang penuh kedamaian semakin jauh diganti dengan nilai-nilai yang penuh dengan dinamika eksotik, hingar bingar diselimuti emosi serta sifat-sifat Rajas dan yang membuat kita lebih prihatin justru kita tidak mampu membendungnya akibat kemajuan teknologi informasi yang mengglobal, sehingga dalam pelaksanaannya dimana hari raya Galungan justru jauh dari konsep pemaknaan kemenangan Dharma melawan Adharma. Kalau sudah demikian bagi umat yang menyadari hanya bisa berpasrah diri seraya memanjatkan doa semoga saja umat manusia ke depan akan segera menyadari betapa pentingnya menyelaraskan diri baik kepada Tuhan, antar sesama maupun dengan alam semesta dengan segala isinya agar manusia di masa depan dapat hidup damai dan jagadhita. Bukan saling bermusuhan maupun berlomba-lomba unjuk ego dengan merusak isi alam semesta raya ini. Selanjutnya kembali kepada pelaksanaan hari raya Galungan sebagaimana disinggung sebelumnya yang merupakan hari perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma, maka puncak peperangan dan dinyatakan menang adalah pada saat hari Penampahan Galungan, dimana kita telah mampu menguasai diri dan mampu memerintah dan mengendalikan pikiran. Kemenangan pada saat itulah pada esok harinya dirayakan. Kenapa perayaan ini disebut Galungan? Penulis memaknai dari kata Galungan tersimak arti Galang, sedangkan galang (Bahasa Bali) berarti terang seperti cuaca terang atau cerah. Apanya yang terang atau cerah, tiada lain adalah suasana bathin kita yang terang setelah menang dalam pertempuran. Tat kala kita telah mampu menguasai, mengendalikan dan memerintah pikiran maka bathin kita menjadi hening, hening inilah menuntun kita kearah kehidupan yang serba terang dan dari luar secara kasat mata maka wajah kita selalu diselimuti kecerahan baik dikala duka apalagi suka akan selalu bercahaya membawa suasana kedamaian bagi siapapun berada didekatnya, bak cahaya di tengah kegelapan (vidya).

g. Umanis Galungan.

Umanis Galungan adalah H+1 yakni jatuh pada hari Kamis Umanis wuku Dungulan. Di hari ini, umat se-Dharma saling kunjung mengunjungi antar saudara dan handai taolan untuk mempererat tali persaudaraan. Pada beberapa tempat, di hari ini masih dilaksanakan persembahyangan bersama karena ada Upacara Piodalan di Pura, baik tingkat Tri Kahyangan, Dang Kahyangan maupun Sad Kahyangan.
Adapun makna apa yang tersirat pada hari Umanis Galungan ini merupakan hari pertama perhitungan Panca Wara, yang berarti pula hari pertama setelah mendapatkan keharmonisan (manis) dalam melakoni makna apa yang dirayakan sebelumnya dengan tetap mempertahankan kesadaran diri sebagai sumber dalam memerintah pikiran, berucap dan berbuat..

h. Pemaridan Guru.

Pemaridan Guru jatuh pada hari Sabtu Pon wuku Dungulan, dimana kata Pemaridan berasal dari Paridan artinya Lungsuran, Waranugraha, Karunia. Sedangkan kata Guru menunjuk kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Pramesti Guru yakni Guruning Guru atau Guru Sejati (Guru Swadiaya). Pada hari Pemaridan Guru digambarkan bahwa pada hari ini para Dewata kembali ke Sunya Lokha (Kahyangan) dan meninggalkan anugrah berupa kadirgayusan yaitu hidup sehat umur panjang, visi hidup yang baru yang lebih dharmika dan hari ini umat menikmati waranugraha dari Dewata. Dengan harapan agar semua anugrah tersebut dijadikan sebagai bekal dalam mengisi hidup di kehidupanan ini, guna peningkatan kualitas hidup dari yang tidak/belum/kurang baik menjadi baik / semakin / lebih baik lagi. Demikian makna Hari Pemaridan Guru, sebagai hari angayu bagia atas anugrah Hyang Widhi yang diawali dengan pendakian sepritual dalam mencapai kemenangan / wijaya dalam hidup ini. Secara filosofi, dimana dalam menjalankan atau menjaga kesadaran murni ini haruslah kita mencari pembimbing atau Guru baik secara Sekala maupun Niskala, karena tanpa pembimbing maka kita bisa saja salah arah. Sedikit orang yang mampu berguru langsung pada Guru Niskala yakni berguru kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Sang Hyang Pramesti Guru, kecuali mereka yang memang mau belajar dan berusaha keras atau mereka sejak lahir telah banyak menunjukkan kemuzizatan. Hingga di sini, Guru Sekala (Guru Pengajian) memegang peranan amat penting tat kala kita mulai mampu menjaga kesadaran murni. Maka atas bimbingan Guru kita dapat dengan terarah menggali kesadaran murni tersebut dengan menelusuri keheningan melalui pengosongan diri. Apalagi Guru tersebut mampu membukakan Cakra Roh/Atman, maka cara cepat mengembalikan kesadaran murni segera dapat dilakukan. Oleh karena demikian segala berkah dari Hyang Maha Kuasa dan bimbingan Guru Sekala, pada hari Pemaridan Guru ini wajib hukumnya untuk bersyukur dan sujud bhakti kepada Guru. Meskipun Guru sekala berupa manusia biasa bila kita telah sampai di kesadaran murni, kita bersujud di hadapannya bukanlah suatu pemberhalaan. Jangankan berbentuk manusia, batupun bila kita sujud di depannya bukanlah kita menyembah berhala. Karena pada saat sujud yang berpadu itu adalah hati dengan hati, tidak tergantung apapun yang ada di depan kita (maka egopun akan sirna). Oleh karena itu, sudah wajib hukumnya kita sujud kepada Guru, Orang Tua dan yang lebih tua dari kita dan kalau kita mampu sujudlah kepada semua orang tanpa memandang bentuk/rupa, nama maupun embel-embel sosial lainnya maupun terhadap se isi alam semesta ini. Karena pada dasarnya kita sujud terhadap siapa yang ada pada inti paling dalam dan hakiki yang ada di dalam bentuk maupun rupa tersebut (Narayana Ewedam Sharwam). Kalau hal ini mampu kita lakukan dengan ihklas dan spontanitas hanya semata-mata karena dharma, maka kita akan menjadi orang yang rendah hati namun bukan rendah diri maka egopun akan semakin menjauh dari diri kita. Pada kesempatan ini penulis juga perlu menyampaikan tentang Berhala, agar kita tidak tersesat dengan pemahaman Berhala yang secara umum dipahami oleh masyarakat selama ini, bahwa berhala itu berupa batu, patung maupun pratima yang sering digunakan sebagai media pada persembahyangan di kalangan umat Hindu. Yang sebenarnya disebut dengan Berhala adalah sesuatu bentuk bayangan yang muncul sebagai akibat dari persepsi pikiran saat kita mulai memejamkan mata di saat sembahyang. Bentuk bayangan itulah disebut Berhala, karena Tuhan sendiri tidak seperti bentuk yang kita bayangkan. Pikiran hanya sebagai alat bantu saat mulai konsentrasi, selanjutnya hatilah yang berbicara. Janganlah berhubungan dengan Tuhan melalui pikiran, karena Tuhan sendiri tak terpikirkan akan tetapi carilah dalam konteks rasa.

i. Ulihan.

Ulihan Galungan jatuh pada hari Minggu wuku Kuningan, dimana umat se-Dharma kembali menghaturkan sesajen kehadapan Bathara-Bathari sebagai manifestasi dari Hyang Widhi guna memohon waranugrahanya baik kepada umatnya maupun kelestarian alam semesta. Ulihan dalam bahasa Bali berarti kembali. Hingga secara harifah bahwa Ulihan Galungan dimaksud adalah kembalinya para Dewa sebagai manifestasi Tuhan setelah kita mendapatkan berkah dari Sang Hyang Pramesti Guru.

j. Pemacekan Agung.

Pemacekan Agung jatuh pada hari Senin Kliwon wuku Kuningan, dimana kata Pemacekan Agung dirangkai dari 2 kata yakni Pemacekan dalam bahasa Bali berasal dari kata pacek yang artinya tusuk atau tancap dan Agung berarti besar. Maka Pemacekan Agung dapat diartikan bahwa kita telah mampu melewati apa sesungguhnya godaan-godaan amat besar yang mengarah dan hendak mencelakakan diri kita, hingga pada hari ini pun umat Hindu kembali menghaturkan sesajen yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta di halaman rumah dan di Kahyangan sebagai wujud rasa syukur kita telah terbebas dari pengaruh Sang Kala Tiga yang senantiasa ingin membelenggu kita agar selalu berbuat kejahatan dengan menusukkan godaan yang nantinya dapat menjatuhkan kita pada kesengsaraan.

k. Kuningan.

Hari raya Kuningan yang jatuh pada hari Sabtu Keliwon Wuku Kuningan adalah hari yang ditunggu-tunggu setelah merayakan Galungan. Jarak Galungan dengan Kuningan adalah 10 hari kalender. Di sini uUmat Hindu kembali berbondong-bondong melakukan persembahyangan bersama. Sesajen yang umum dibuat pada hari raya tersebut adalah Nasi Kuning yang dihaturkan kehadapan Bathara-Bathari sebagai manifestasi Ida Sanghyang Widhi baik di rumah yaitu di Pemerajan maupun di Kahyangan. Itu semuanya telah dilakukan sesuai dengan pakem yang telah ditentukan dan semua itu bermakna sebagai ucapan terima kasih kepada Hyang Maha Agung atas anugrah yang telah dilimpahkan. Di hari Kuningan ini juga kita memasang Tamiyang pada pelinggih-pelinggih bahkan mengganti Sampiyan Penjor dengan Tamiyang. Tamiyang berasal dari kata Tami artinya Warisan atau Anugerah. Lalu harapan apa yg kita mohonkan agar di anugerahkan, adalah segala dari aci Galungan dan Hyang Widhi juga berkenan menganugerahkan Kuningan. Kuningan berasal dari kata “uning” artinya tahu atau pengetahuan atau mengetahui (mengerti). Maka di hari Kuningan ini umat dinyatakan sudah tahu (mengerti) hingga telah dapat membedakan antara Dharma (kebaikan) dengan Adharma (kejahatan) dan pengetahuan ini hendaknya dapat dikuasi secepatnya atau sebelum sore hari dalam filosofi menjelang hari tua, maka dihimbau agar pelaksanaan persembahyangan / upacara agar dilakukan sebelum jam 12 siang.

k. Budha Kliwon Pahang (Pegat Wakan).

Pegat Wakan jatuh pada hari Rabu Kliwon wuku Pahang, seperti yang telah diuraikan di atas, sebagaimana diuraikan dalam lontar Sundarigama, bahwa Pegat Wakan berasal dari kata pegat artinya = putus, palas, lepas dan Wak = raos, omongan sementara Balung = tulang serta Pahang = nama wuku ke 16. Jadi Pegat Wakan dapat secara singkat diartikan adalah menyudahi pembicaraan, yang dalam hal ini pembicaraan tentang wuku Dungulan. Di hari ini kita kembali melakukan persembahyangan sebagai wujud rasa bersykur dimana dalam filosofinya bahwa pada hari ini telah berakhirnya rangkaian hari raya Galungan selama dalam kurun 42 hari maka setelah Pegat Wakan mulai diberlakukannya hari-hari pantangan sepeti melakukan upacara yadnya lainnya.

Demikianlah, pada akhirnya kita dapat mengettahui makna filosofi hari raya Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari Adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (Dharma) dalam diri manusia. Selain itu kita juga mampu untuk membeda-bedakan kecendrungan keraksasaan (ashura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Hingga harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan.

Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan Dharma melawan Adharma.

Maka intinya, makna hari Raya Galungan adalah kemenangan Dharma (kebaikan) dalam peperangan melawan Adharma (kejahatan) sesungguhnya pada diri sendiri guna menemukan jati diri. (!)

Om Santih, Santih, Santih Om

                                                 Jembrana, Senin. 14 September 2020

Penulis      : JRO MANGKU SUARDANA
Pura Tirtha Dangkahyangan Rambutsiwi
Editor         : Selamet
Publisher   : Redaktur

Share this:

[addtoany]

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *

AWPI PERS GUARD - TELIKSANDI.ID