TELIKSANDI
NEWS TICKER

Seniman dan Budayawan Solo Turut Mewarnai Gora Swara #5 PG. Gondang Winangun Klaten

Rabu, 18 November 2020 | 11:38 am
Reporter:
Posted by: admin
Dibaca: 13

Klaten | Teliksandi.id – Jenang sumsum, makanan rakyat yang lazim dijumpai di wilayah kebudayaan Jawa, terutama ketika usai pesta. Bahkan, namanya diabadikan dalam sebuah prosesi pasca pesta dengan sebutan Sumsuman.

Dalam sebuah pesta atau pagelaran, Jenang Sumsum menjadi “bintang” pada usai acara. Prosesi sumsuman, biasanya diisi dengan acara evaluasi, ramah tamah, saling berucap maaf, dan saling kasih. Ramah tamah pasca sebuah “pesta” ini sangat penting untuk menyelamatkan emosi dan tenaga.

Dalam tradisi Jawa, Sumsuman adalah makan bubur sumsum yang berwarna putih dengan paduan juruh atau gula jawa yang dicairkan. Bahkan menurut budayawan Mudji Sutrisno, dalam budaya jawa, jenang adalah jenang putih hasil olahan beras yang sampai lembut.
Jenang sumsum juga merupakan simbol rezeki. “Dalam budaya jawa itu yang namanya Sumsuman jenang putih yang dari beras yang dimasak itu simbol dari rejeki. Artinya fooding nasi yang lembut itu yang jadi makanan kita waktu kecil. Lalu pakai juruh. Juruh itu kan manis. Itu simbol antara yang manis dan yang gurih itu menghidupkan, ”terang budayawan yang akrab disapa Romo Mudji itu.

Disamping itu Gora Swara Nusantara ada warna baru yang menghiasinya dengan hadirnya Mbah Jantit Sonokolo (Pelaku dan budayawan Solo/Surakarta), Om Pong Hardjatmo (Aktor Legendaris Indonesia Kelahiran Solo), Morpheyn Noor (ASGA Mangkunegaran Solo – juga mengemban amanah Bidang Seni Budaya DPN SAPU JAGAD), Novi (Mahasiswi Tari ISI Surakarta), Sidik (Kreator), Hestin (Pelaku seni Angrasmanis Tawangmangu Karanganyar ) dan Gundhala Seta ( SAKA Galery Solo)

Pada 7 hari sebelum sum-suman ada pagelaran pentas selama 4 hari dimulai tanggal 10 sampai dengan tgl 13 dengan pembuatan tumpengan Gendhis, pernikahan Tebu dan sakralan gendhis tiap malam serta talkshow terkait klaten masa depan yang diprakarsai Muhammad anshori, Mbah Agus Bimo Serta budayawan , seniman dan kreator diDaerah klaten sanggar Rojo Lele, Sayuk Rukun, Kandang udan, Gedruk Merapi, jantur panji udan, Lare Menthes, Lintang panjerino, Kinanthi Budaya, Anak Tani, Semoyo Endho, Gatotkaca Edan, OCB palon gajahan, Tapak Wulu Barong, Ganjur, Hadroh Tegalmulyo, Orang Muda Katholik, Sedulur Lesung, Sandy Gita, Vocal Group GKJ Gondhang, Parikesit, Sekar Langit, Ogoh-ogoh, Forum Silaturohmi Sanggar Tari Klaten, Sekar Kinasih, Sedulur Girpasang, Diffa Mandiri, Balerung Klaten Association, Sinau Bumi, Klatten Haritage Community, Klaten geography Association, KMK Undip, Sulukan Mataram, Pelaku Seni Klaten, Pemdes Plawikan, Direksi dan Karyawan PG. Gondhang Winangun ( Bopo Sentot, Bopo Edy dll ) dengan tema Gondang Gandhang Gora swara #5

“Ada alasan mengapa jenang sumsum dibuat dan dihadirkan saat sebuah pesta telah usai. Sebabnya, dalam budaya jawa, segala proses dalam kehidupan sebagai sesuatu yang harus dirayakan. Perayaan itu juga termasuk tahapan kehidupan dalam kandungan, kelahiran, pernikahan, hingga kematian. “Kalau Jawa kenapa itu dibuat setelah pesta atau pesta itu disyukuri. Sebenarnya tahap-tahap kehidupan orang Jawa. Jadi, tahap-tahap kehidupan itu dirayakan karena orang Jawa hidup dalam sebuah dialog dan relasi yang amat sakral” Jelasnya.

Padangan hidup masyarakat Jawa juga sangat memengaruhi tradisi Sumsuman. Masyarakat Jawa memaknai manusia sebagai jagat kecil yang berada dalam jagat besar. Dari situlah konsep maneges, upaya upaya harmonisasi antara manusia dan alam semesta raya. Untuk (salah satu) alasan ini pula, GORA SWARA NUSANTARA ikut mengambil makna, Sumsuman. (Red/SNR)

Share this:

[addtoany]

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Name *

AWPI PERS GUARD - TELIKSANDI.ID