TELIKSANDI
NEWS TICKER

MAN 2 Bantul Ikuti FPM 5: Pemimpin dengan Kepala yang Memimpin, Hati yang Menuntun

Jumat, 15 Agustus 2025 | 3:51 pm
Reporter:
Posted by: Jo Han
Dibaca: 348

Bantul, 13 Agustus 2025 – Memasuki hari kedua Festival Pemikiran Madrasah (FPM) ke-5 yang digelar secara daring, guru-guru MAN 2 Bantul kembali mendapat pembekalan materi yang memperkaya wawasan dan keterampilan mereka. Setelah pada sesi sebelumnya mendalami penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berbasis Nilai Panca Cinta, kali ini peserta diajak memahami konsep kepemimpinan yang memadukan ketegasan visi dengan kelembutan hati, bertema “Kepala yang Memimpin, Hati yang Menuntun”.

Materi pada hari kedua ini dibawakan oleh Ameliasari Tauresia Kesuma dari MAN Salatiga, yang dikenal sebagai pendidik dan pemimpin madrasah dengan kepemimpinan empatik. Dalam penyampaiannya, Amelia menegaskan bahwa kepemimpinan di dunia pendidikan bukan sekadar memegang kendali administratif atau membuat kebijakan, melainkan juga membimbing dengan hati. Seorang pemimpin yang baik harus mengedepankan sisi kemanusiaan, membangun hubungan yang saling percaya, dan menciptakan lingkungan yang positif.

Amelia menggunakan ilustrasi pohon sebagai gambaran model kepemimpinan ideal. 

  1. Akar dari pohon melambangkan nilai Panca Cinta—cinta Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air—yang menjadi landasan seluruh tindakan.
  2. Batang pohon mencerminkan kepemimpinan yang reflektif dan empatik, di mana seorang pemimpin terus memeriksa niat, cara berbicara, dan keputusan yang diambil, sekaligus mampu memahami tantangan yang dihadapi guru dan murid.
  3. Daun dan buah menggambarkan hasil yang ingin dicapai: guru yang bahagia, murid yang sehat jasmani dan rohani, serta lingkungan madrasah yang harmonis dan produktif.

Amelia merinci empat pilar penting yang menjadi penopang kepemimpinan penuh cinta:

  1. Refleksi Diri Pemimpin – Mengajak setiap pemimpin untuk memeriksa kembali niat, cara berbicara, dan keputusan, sehingga setiap langkah yang diambil benar-benar berlandaskan pada kebaikan dan kebermanfaatan.
  2. Empati pada Guru dan Murid – Memahami tantangan yang dihadapi guru maupun siswa, serta memberikan dukungan sesuai kebutuhan mereka.
  3. Menumbuhkan Kepercayaan – Memberikan ruang inovasi tanpa rasa takut salah, sehingga tercipta lingkungan kreatif yang mendukung perkembangan.
  4. Membangun Lingkungan Positif – Menjadikan madrasah sebagai tempat yang aman, harmonis, dan memberdayakan setiap warganya.

Salah satu peserta FPM, Fitria Endang Susana, guru MAN 2 Bantul, mengungkapkan kesan mendalam terhadap materi ini. “Sering kali kita terjebak pada rutinitas teknis pembelajaran, tetapi lupa bahwa kepemimpinan yang empatik dan penuh cinta juga memengaruhi semangat belajar siswa. Ilustrasi pohon tadi membuat saya semakin paham bahwa akar nilai menentukan buah yang dihasilkan,” ujarnya.

Fitria menambahkan bahwa prinsip kepemimpinan ini relevan untuk semua level, bukan hanya kepala madrasah. Menurutnya, setiap guru pada hakikatnya adalah pemimpin di kelasnya. Dengan melakukan refleksi, menumbuhkan kepercayaan, dan menciptakan lingkungan positif, guru dapat membangun suasana belajar yang lebih inspiratif. “Kalau guru merasa aman dan dihargai, murid pun akan merasakan hal yang sama. Itulah yang membuat proses belajar menjadi lebih bermakna,” tambahnya.

Kegiatan FPM 5 kali ini diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai madrasah di seluruh Indonesia. Antusiasme peserta terlihat jelas dari interaksi aktif selama diskusi. Banyak yang berbagi pengalaman pribadi dalam menerapkan kepemimpinan penuh empati di lingkungan masing-masing. Peserta juga menanggapi positif visualisasi materi melalui ilustrasi pohon. Mereka mengaku bahwa simbol ini membantu memahami keterkaitan antara nilai, sikap, dan hasil yang ingin dicapai.

Sesi yang dibawakan Amelia ini tidak hanya memberikan teori, tetapi juga mendorong peserta untuk membuat rencana tindak lanjut. Ia mengajak setiap pemimpin dan guru untuk memulai perubahan dari diri sendiri melalui refleksi harian, membangun komunikasi yang lebih empatik, dan memberi ruang partisipasi yang lebih luas bagi warga madrasah.

Di akhir sesi, ditekankan kembali bahwa penerapan nilai Panca Cinta bukan hanya slogan, melainkan harus menjadi budaya yang hidup di madrasah. Nilai ini menjadi pondasi untuk membangun ekosistem pendidikan yang unggul secara akademik sekaligus sehat secara emosional dan spiritual. FPM 5 kali ini memberikan pesan yang kuat: seorang pemimpin sejati bukan hanya memimpin dengan kepala, tetapi juga menuntun dengan hati. Pemikiran yang terarah dan hati yang penuh cinta akan melahirkan madrasah yang damai, harmonis, dan berprestasi.

Dengan semangat ini, para peserta diharapkan dapat membawa pulang inspirasi dan segera mengimplementasikannya di lingkungan masing-masing. Sebagaimana diibaratkan oleh ilustrasi pohon, akar nilai yang kuat akan menumbuhkan batang kepemimpinan yang kokoh dan menghasilkan buah berupa generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi untuk bangsa.

Share this:

[addtoany]

Berita Lainnya

AWPI PERS GUARD - TELIKSANDI.ID