Bantul – Monumen Segoroyoso di Pleret, Bantul, berubah menjadi lokasi produksi film pada Kamis, 14/8/2025 ketika Tim Proyek Film MAN 2 Bantul menggelar proses syuting. Dengan semangat dan kekompakan, para siswa menjalankan setiap tahap pengambilan gambar sesuai naskah yang telah disusun, didampingi Guru Pembimbing Farkhan Yusuf Permana dan instruktur perfilman yang berpengalaman.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) yang memadukan keterampilan seni, teknologi, dan kerja kolaboratif. Pemilihan Monumen Segoroyoso bukan tanpa alasan. Lokasi ini menyimpan nilai sejarah perjuangan rakyat yang sangat relevan dengan tema cerita, sekaligus menawarkan latar visual yang mendukung suasana adegan.
Sejak pagi, tim sudah bersiap di lokasi. Sesi dimulai dengan briefing singkat yang dipimpin oleh Farkhan Yusuf Permana. Dalam pengarahan tersebut, ia menekankan pentingnya kerja sama, ketepatan waktu, dan disiplin peran agar syuting berjalan lancar. “Film adalah kerja tim. Semua bagian, dari sutradara, kameramen, pemeran, hingga penata artistik, harus saling mendukung demi hasil terbaik,” pesannya.
Proses pengambilan gambar dilakukan berdasarkan storyboard yang telah dibuat sebelumnya. Para siswa menjalankan tugas sesuai peran masing-masing: ada yang mengatur kamera, mempersiapkan properti, memeriksa pencahayaan, hingga mengatur posisi pemain. Sementara itu, instruktur perfilman memberikan masukan teknis, seperti sudut pengambilan gambar (angle), pengaturan komposisi, dan blocking pemain agar hasil rekaman sesuai standar produksi profesional.
Beberapa adegan membutuhkan pengambilan ulang (retake) untuk memastikan ekspresi pemeran dan pencahayaan sesuai dengan visi cerita. Tantangan juga muncul dari faktor cuaca dan gangguan lingkungan sekitar, namun tim mampu mengatasinya dengan komunikasi dan koordinasi yang baik.
Menurut salah satu anggota tim, pengalaman ini memberikan wawasan baru yang tidak didapat di kelas. “Kami belajar langsung bagaimana proses pembuatan film di lapangan. Ada banyak hal teknis yang rumit, tapi seru. Rasanya seperti benar-benar menjadi kru profesional,” ujarnya dengan antusias.
Farkhan Yusuf Permana mengaku bangga melihat dedikasi para siswa. Ia menilai kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga membangun karakter. “Mereka belajar disiplin, memecahkan masalah, dan menghargai pendapat satu sama lain. Itulah nilai penting yang dibawa dari proses kreatif seperti ini,” jelasnya.
Monumen Segoroyoso memberikan nuansa khas yang memperkaya visual film. Selain keindahan arsitekturnya, monumen ini juga menyimpan cerita heroik yang relevan dengan pesan yang ingin disampaikan film. Hal ini membuat setiap pengambilan gambar terasa lebih bermakna.
Syuting hari itu berhasil merekam seluruh adegan yang telah dijadwalkan. Selanjutnya, tim akan masuk ke tahap editing dan post-production, termasuk pengaturan warna (color grading), penambahan efek suara, dan musik latar. Hasil akhir diharapkan menjadi karya yang tidak hanya membanggakan sekolah, tetapi juga dapat diapresiasi oleh masyarakat luas.
Melalui kegiatan ini, Tim Proyek Film MAN 2 Bantul membuktikan bahwa kreativitas, jika dikombinasikan dengan kerja sama dan bimbingan yang tepat, mampu menghasilkan karya berkualitas. Semangat kolaborasi yang ditunjukkan di Monumen Segoroyoso menjadi modal berharga untuk proyek-proyek kreatif berikutnya.






