Bantul, 13 Juni 2025 — Suasana hangat dan antusias tampak menyelimuti Balai Padukuhan Klembon, Kelurahan Tri Renggo, Bantul pada Jumat siang (13/6). Belasan peserta yang terdiri dari pelaku UMKM kuliner rumahan, ibu-ibu PKK setempat hadir dalam kegiatan edukasi bertajuk Sanitasi dan Higienitas dalam Pengolahan Makanan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi oleh Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bantul, melalui Sub Kegiatan Koordinasi Sinkronisasi dan Pelaksanaan Pemberdayaan Industri dan Peran Serta Masyarakat.
Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 14.00 WIB ini menghadirkan beberapa narasumber salah satunya Saryanto, S.Pd., seorang guru sekaligus praktisi di bidang Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) dari MAN 2 Bantul. Dalam paparannya, Saryanto mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kebersihan dan keamanan pangan dalam setiap proses produksi makanan.
“Sanitasi dan higienitas bukan hanya soal bersih, tapi juga menyangkut tanggung jawab moral produsen terhadap kesehatan konsumen. Ini adalah fondasi penting jika ingin produk rumahan naik kelas dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” ujar Saryanto penuh semangat.
Dengan pendekatan praktis dan demonstratif, Saryanto menjelaskan berbagai aspek penting dalam pengolahan makanan, mulai dari kebersihan alat, sanitasi ruang produksi, hingga perilaku higienis para pelaku usaha makanan. Materi disampaikan secara interaktif, diselingi tanya-jawab dan praktik sederhana yang membuat suasana semakin hidup.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari strategi Dinas Koperasi UKM dan Perindag Bantul dalam memperkuat industri rumahan agar mampu memenuhi standar kelayakan pangan. Tidak hanya sekedar penyuluhan, tetapi kegiatan ini diharapkan mampu membuka ruang diskusi dan kolaborasi antarwarga serta mempertemukan mereka dengan institusi pendidikan seperti MAN 2 Bantul yang memiliki kompetensi keahlian sesuai kebutuhan masyarakat. Kerja sama antara lembaga pendidikan dan pemerintah daerah dalam konteks pengabdian masyarakat semacam ini diharapkan menjadi model kemitraan yang berkelanjutan.
Padukuhan Klembon menjadi saksi bagaimana transformasi wawasan warga bisa dimulai dari ruang balai dusun. Edukasi seperti ini mampu membuka cakrawala baru bahwa menjadi produsen makanan bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal etika dan kualitas hidup masyarakat.
Dalam penutupan sesi, Saryanto berpesan agar peserta mulai menerapkan kebiasaan higienis dalam skala kecil, dari rumah masing-masing. “Mulailah dari yang sederhana, dari lingkungan sendiri, dan terus perbaiki kualitas. Karena kualitas pangan yang baik akan membawa kepercayaan dan keberkahan usaha,” tutupnya disambut tepuk tangan peserta.
Melalui kegiatan ini, semangat pemberdayaan bukan hanya menjadi jargon, tetapi benar-benar dirasakan sebagai upaya nyata dalam membangun kemandirian dan daya saing ekonomi masyarakat dari akar rumput. (Edi S)






