TELIKSANDI
NEWS TICKER

Siswa MAN 2 Bantul Raih Doorprize Usai Jawab Pertanyaan Cara Menjaga Rupiah

Kamis, 18 September 2025 | 8:18 am
Reporter:
Posted by: Jo Han
Dibaca: 226

Bantul – Semangat literasi keuangan dan cinta Rupiah tampak hidup dalam acara sosialisasi Masyarakat lan Pedagang Tanggap Inflasi (MRANTASI) yang digelar Bank Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta di Hotel Grand Rohan, Rabu (17/9/2025). Dalam kegiatan ini, salah satu siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Bantul, Miftahul Jannah, berhasil menarik perhatian peserta setelah menjawab dengan tepat pertanyaan seputar cara menjaga Rupiah. Atas keberaniannya, ia pun mendapatkan doorprize dari panitia.

Kisah keberhasilan Miftahul Jannah bermula ketika sesi tanya jawab berlangsung. Seorang narasumber dari Bank Indonesia melemparkan pertanyaan sederhana namun penuh makna: “Bagaimana cara menjaga Rupiah agar tetap awet dan bernilai?”. Pertanyaan itu langsung membuat suasana ruangan sedikit hening.

Dengan penuh percaya diri, Miftahul Jannah mengangkat tangan dan menjawab lantang. Ia menyebutkan bahwa menjaga Rupiah dapat dilakukan melalui 5 J, yakni Jangan dilipat, jangan dicoret, jangan dibasahi, jangan diremas, dan jangan distaples. Jawaban itu sontak mendapat tepuk tangan meriah dari para peserta yang hadir, termasuk guru pendamping, perwakilan instansi, serta tamu undangan lainnya.

Panitia pun mengumumkan bahwa jawaban Miftahul Jannah adalah tepat. Ia kemudian menerima doorprize sebagai bentuk apresiasi. Wajah gembira terpancar jelas dari siswi kelas XI tersebut. Mengapa jawaban itu dianggap penting? Rupiah bukan sekadar alat transaksi sehari-hari, melainkan simbol kedaulatan bangsa. Setiap lembar Rupiah mengandung nilai sejarah, budaya, dan martabat Indonesia. Menjaga fisik Rupiah sama artinya dengan menjaga harga diri bangsa di mata dunia.

Narasumber menegaskan, meskipun terlihat sederhana, kebiasaan buruk seperti melipat, mencoret, atau bahkan meremas uang bisa memperpendek usia pakai Rupiah. Bank Indonesia setiap tahunnya harus mengeluarkan biaya besar untuk mencetak uang baru menggantikan uang yang rusak. “Kalau masyarakat disiplin menjaga uang, biaya cetak bisa ditekan dan dialihkan untuk program pembangunan lainnya,” jelasnya.

Dengan demikian, keberanian Miftahul Jannah dalam menjawab pertanyaan bukan hanya menunjukkan pengetahuannya, tetapi juga memberi teladan kepada peserta lain bahwa generasi muda mampu menjadi agen perubahan dalam membangun budaya cinta Rupiah.

Acara sosialisasi yang dihelat di Hotel Grand Rohan ini berlangsung meriah. Peserta yang hadir berasal dari kepala sekolah/madrasah, guru pembimbing dan pelajar, hingga tokoh masyarakat. Mereka diajak untuk memahami pentingnya mengendalikan inflasi serta menjaga stabilitas Rupiah.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan sambutan dari perwakilan Bank Indonesia DIY, dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai inflasi, stabilitas harga, dan peran masyarakat dalam menjaga Rupiah. Tidak hanya berupa ceramah, sesi interaktif berupa kuis dan tanya jawab juga dihadirkan untuk mencairkan suasana.

Ketika sesi doorprize berlangsung, antusiasme peserta semakin meningkat. Banyak pelajar yang berusaha menjawab pertanyaan, namun Miftahul Jannah menjadi salah satu yang paling beruntung sekaligus paling tepat dalam memberikan jawaban.

Guru pendamping MAN 2 Bantul menyampaikan rasa bangganya. Menurutnya, pengalaman seperti ini menjadi kesempatan emas bagi siswa untuk belajar langsung di luar kelas. “Apa yang disampaikan Miftahul Jannah hari ini membuktikan bahwa pelajar kita bisa berani tampil, berpikir cepat, dan menyuarakan pesan positif di hadapan publik,” ujarnya.

Jawaban Miftahul Jannah yang berisi 5 J sebenarnya adalah pesan sederhana yang ingin ditanamkan oleh Bank Indonesia. Lima larangan tersebut bukan hanya aturan teknis, melainkan gerakan moral untuk mencintai Rupiah:

  1. Jangan dilipat – Uang yang dilipat berulang kali bisa cepat robek dan rusak.
  2. Jangan dicoret – Coretan merusak nilai estetika uang dan mengurangi kualitasnya.
  3. Jangan dibasahi – Kelembapan bisa menyebabkan uang rusak, sobek, atau berjamur.
  4. Jangan diremas – Meremas membuat uang kusut, sulit disusun, dan lebih cepat rusak.
  5. Jangan distaples – Stapler dapat melubangi uang dan merusak keasliannya.

Melalui pesan sederhana itu, Bank Indonesia berharap masyarakat semakin sadar untuk memperlakukan Rupiah dengan baik. Kesadaran ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap mata uang sendiri.

Kegiatan sosialisasi MRANTASI ini bukan sekadar acara seremonial. Bank Indonesia ingin menciptakan masyarakat yang lebih bijak, tanggap inflasi, dan sadar pentingnya Rupiah. Melibatkan siswa sekolah, seperti Miftahul Jannah, menjadi langkah strategis karena generasi muda adalah garda terdepan dalam membawa perubahan.

Dengan pengalaman mendapatkan doorprize ini, Miftahul Jannah diharapkan mampu menularkan semangatnya kepada teman-teman di madrasah maupun lingkungannya. Ia bisa menjadi contoh kecil bahwa kepedulian pada hal sederhana, seperti merawat uang, memiliki dampak besar bagi bangsa.

Momen ketika seorang siswi MAN 2 Bantul berhasil menjawab pertanyaan tentang cara menjaga Rupiah dan mendapatkan doorprize di Hotel Grand Rohan, Rabu (17/9/2025), akan menjadi pengalaman berharga. Peristiwa ini tidak hanya membanggakan bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi MAN 2 Bantul sebagai institusi pendidikan yang konsisten mendorong siswanya aktif, percaya diri, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Seperti kata pepatah, hal besar selalu dimulai dari langkah kecil. Menjaga Rupiah dengan 5 J mungkin tampak sederhana, tetapi jika dilakukan bersama-sama, akan membawa dampak besar bagi ekonomi Indonesia. Dan melalui keberanian seorang pelajar bernama Miftahul Jannah, pesan itu tersampaikan dengan indah kepada seluruh peserta.

Share this:

[addtoany]

Berita Lainnya

AWPI PERS GUARD - TELIKSANDI.ID