TELIKSANDI
NEWS TICKER

PRASASTI BALA TUNGGA PUTRI DEWI : Silaturahmi Kesatuan Republik Indonesia Yang Dulu Dinamakan Nusantara

Jumat, 14 Februari 2020 | 7:56 pm
Reporter:
Posted by: admin
Dibaca: 1100

Teliksandi.id – Bala Putra Tungga Dewa sampai dikampung halamannya Kumau Kota Raja yang sudah berubah nama menjadi Pagaruyung Darul Aman. Nama baru sebagai perwujudan sumpah palapa Ayahandanya Rakai Pikatan Raja Dinasti Syailendra.

Palapa Rakai Pikatan adalah perwujudan dari cita – cita luhur para leluhur pendalu dalam rangkaian panjang proses Kerajaan Kuntala mewujudkan cita – cita atau tugas Nabi Adam AS.
Kumau Kota Raja sudah sangat lama menjalin silaturahimnya dengan negara – negara arab tempo dulu, hal tersebut ditunjukkan dengan kata Bala, Darul Aman, Kuntala yang merupakan tiga kata konsep adopsi dari bahasa arab, satu diantara artinya adalah bahwa migrasi pertama ke nusantara berasal dari arab dengan kota besar tertuanya mekkah, kota suci umat agama Samawi atau agama yang diturunkan oleh Allah S.W.T., agama Samawi bukan agama islam semata , agama yang dibawa oleh para nabi – nabi kita sebelum lahirnya Nabi Muhammad S.A.W. adalah agama Samawi Semua.
Bala Putra Tungga Dewa kembali meletakkan pilar komitmen mempertahankan kesatuan Nusantara, jasadnya memang tidak berada ditanah Jawa tetapi bagian jasadnya yang tidak akan terpisahkan sepanjang masa masih ada di Jawa sampai kini.
Pilar itu adalah Prasasti Bala Putri Tungga Dewi, prasasti itu juga dikenal dengan nama prasasti Geni atau Jeni.
Dikuntala Geni atau Jeni merupakan ritual keagamaan yang merupakan Puasa tamabahan selain puasa Ramadhan merupakan ritual keagamaan dilakukan dalam waktu yang cukup panjang, Jeni apakah juga sebuah konsep Arabia !, kata Jeni memang sangat dekat dengan kata Jinni sebagaimana disebutkan didalam Al-quran yang artinya kujadikan Jin dan manusia untuk mengabdi kepadaku, begitu tutur kata yang lazim kita dengar. Kita tuturkan kata Jeni pada paparan edisi ini guna untuk mengetahui bahwa Bala Putra Tungga Dewa adalah seorang muslim atau Islam sejati. Dengan demikian artinya Islam dinusantara sudah berkembang dengan baik secara perlahan pada waktu itu.
Di Kuntala Jeni sampai kini dalam Seloka Adat Kuntala – Kerinci – Jambi masih terpakai kata Jeni ” Tertumbuk akarnya ke pasir Jeni Tertumbuk pucuknya kelangit biru”.. Kuntala adalah Sriwijaya artinya Islam di Nusantara sudah sejak Sriwijaya.
Ritual Jeni adalah puasa Geni/ Jeni yang dilakukan Bala Putra Tungga Dewa semenjak berangkatnya bersama rombongan dari kota Raja Dinasti Syailenda di sekitar Candi Borobudur kita kini sampai ke Kumau Kota Raja, Bala Putra Tungga Dewa banyak melakukan puasa Geni/ Jeni sehingga ketika itu sampai di kampung AyahandaNya di Kumau dia dalam kondisi kering kerontang, tetapi keras bagaikan baja manusia.
Depati Sitio Negoro sudah menunggunya ketika sampai di Kumau. Sudah lama sekali Sitio Negoro menunggunya sudah puluhan tahun Tahta Raja Sikumbang Tirawang Hitam Lidah atau Tantra Kayaik kosong kini diisi oleh pejabat negaranya Dapati Sitio Negoro hampir dua generasi. Ini adalah gambaran kondisi situasi kerajaan Kuntala atau Sriwijaya setelah di tinggal pergi Ayahanda Bala Putra Tungga Dewa. Dia adalah Raja Sikumbang atau Tirawang Hitam Lidah atau Tantra Kayaik atau Rakai Pikatan banyak lagi namanya karena banyak peristiwa sejarah yang dibuatnya.
Dia adalah pelaku – aktor besar sejarah Nusantara, Palapa Bala Putra Tungga Dewa dan Ayahandanya sama seperti Palapa Gajah Mada Patih Majapahit, Persamaannya adalah Palapa sebagai sebuah sumpah yang harus diwujudkan kata Palapa berasal dari bahasa kerinci Kuntala, Sriwijaya, Palapa artinya adalah perluas – perluasan, perlebar – pelebaran.
Di kerinci Palapa impiris digunakan sampai kini, sama impirisnya dengan prasasti Bala Putri Tungga Dewi artinya ada cerita ada barangnya sebagai bukti otentik.
Realif Lukisan utama Prasasti Bala Putri Tungga Dewi yang di buat Bala Putra Tungga Dewa adalah bagian dari Rasa Geni atau Jeni. Relief tulang punggu utuh sampai ketulang ekor dengan penyangganya tulang rusuk yang utuh yang didalamnya ada organ penting kehidupan manusia antara lain Jantung, Hati, Limpo yang semuanya tempat yang secara adat atau syariat merupakan tempat bersemanyamnya roh manusia, disinilah Jeni yang artinya : didalam jiwa yang dalam.
Rohi kata Ayahandanya menuliskan pada Prasasti Sriwijaya atau Kuntala. Prasasti objek wisata batu bertulis desa Upit – Pupit kabupaten Merangin Provinsi Jambi.
Pemahaman tentang Rohi adalah konsep dasar Negarawan dan Negara kata Bala Putra Tungga Dewa dan Ayahandanya Rakai Pikatan karena dia adalah si Jago Pikat, bukan pikat sembarang pikat didepan tangga, bukan buat sembarang buat tapi dibuat untuk Negara Nusantara.
Kira – kira hampir 1300 tahun yang lalu pasukannya banyak yang menikah diperjalanan karena tertarik oleh pasangannya. Dia mengatakan Borobudur dibuat, prasasti Bala Putri Tungga Dewi dibuat, keduanya adalah prasasti peninggalan sebagai aset peradaban negara Nusantara.
Luar area situs prasasti Bala Putri Tungga Dewi seluas kecamatan Kumun Debai di Kota Sungai Penuh Kerinci, kedua aset tersebut erat hubungannya karena Borobudur ada didalam bahasa Kuntala – Sriwijaya yang impiris sampai kini terpakai dalam komunikasi sehari – hari. Sampai kini dalam penuturan bahasa, Borobudur sama dengan Borobudieo artinya api dan hasil proses pembakarannya.
Prasasti Bala Putri Tungga Dewi dibuat dengan di bakar !. { edisi 2}.

Drs. Sarani Pemerhati Budaya Nasional

Ditulis Oleh: Drs. Sarani Pemerhati Budaya Nasional

Share this:

[addtoany]

Berita Lainnya

AWPI PERS GUARD - TELIKSANDI.ID