Bantul – Bulan suci Ramadhan tidak hanya menjadi waktu bagi umat Islam untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momentum penting untuk melatih pengendalian diri dalam berbagai aspek kehidupan. Pesan tersebut disampaikan oleh Nurhayati, guru MAN 2 Bantul, dalam tausiah Ramadhan yang ditayangkan melalui kanal YouTube resmi MAN 2 Bantul pada Senin, 2 Maret 2026.
Dalam tausiah bertema “Ujian Menahan Nafsu Belanja di Bulan Ramadhan”, Nurhayati mengajak para siswa dan masyarakat untuk memahami makna puasa secara lebih luas. Menurutnya, ibadah puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga merupakan latihan spiritual untuk mengendalikan berbagai keinginan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari, termasuk keinginan untuk berbelanja secara berlebihan.
Pada awal penyampaiannya, Nurhayati menyoroti fenomena yang sering terjadi di masyarakat selama bulan Ramadhan, yaitu meningkatnya aktivitas konsumsi dan belanja. Berbagai promosi, diskon, serta tren belanja menjelang Hari Raya sering kali mendorong masyarakat untuk membeli banyak barang yang sebenarnya tidak terlalu diperlukan.
Padahal, menurut Nurhayati, semangat Ramadhan justru mengajarkan nilai kesederhanaan dan pengendalian diri. Ia mengingatkan bahwa puasa seharusnya membantu seseorang untuk lebih bijak dalam mengelola keinginan, bukan justru menjadi alasan untuk meningkatkan perilaku konsumtif.
“Ramadhan adalah bulan pendidikan bagi umat Islam. Kita dilatih untuk menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya diperbolehkan, seperti makan dan minum di siang hari. Tujuannya adalah agar kita mampu mengendalikan hawa nafsu dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Nurhayati dalam tausiahnya.
Untuk memberikan pemahaman yang lebih kontekstual, Nurhayati kemudian mengaitkan konsep pengendalian diri dalam puasa dengan sebuah eksperimen psikologi terkenal yang dikenal dengan Marshmallow Test. Eksperimen ini dilakukan untuk menguji kemampuan seseorang dalam menunda kepuasan atau keinginan.
Dalam eksperimen tersebut, seorang anak diberikan satu marshmallow dan diberi pilihan sederhana: mereka boleh memakannya sekarang, atau menunggu beberapa waktu untuk mendapatkan dua marshmallow sekaligus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mampu menunda keinginan cenderung memiliki kemampuan pengendalian diri yang lebih baik dan memiliki peluang lebih besar untuk meraih keberhasilan di masa depan.
Menurut Nurhayati, konsep tersebut sangat relevan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam ibadah puasa. Ketika seseorang mampu menahan diri dari keinginan yang bersifat sementara demi mendapatkan pahala dan keberkahan yang lebih besar, maka ia sedang melatih kemampuan menunda kepuasan.
“Ramadhan bisa kita ibaratkan seperti latihan Marshmallow Test dalam kehidupan. Kita belajar menunda keinginan sekarang demi mendapatkan hasil yang lebih baik di masa depan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kemampuan menunda keinginan sangat penting dalam kehidupan modern, terutama dalam menghadapi berbagai godaan konsumsi yang semakin mudah diakses. Berbagai iklan, promosi, serta kemudahan berbelanja secara daring sering kali membuat seseorang membeli sesuatu secara impulsif tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya.
Melalui tausiah ini, Nurhayati mengajak para siswa untuk mulai belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Menurutnya, kebiasaan mengelola keuangan secara bijak perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam gaya hidup konsumtif.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan semangat berbagi. Ketika seseorang mampu menahan keinginan untuk membeli sesuatu yang tidak terlalu penting, maka sebagian rezeki yang dimiliki dapat dialihkan untuk membantu orang lain yang membutuhkan.
“Jika kita mampu menahan diri dari belanja yang berlebihan, maka kita bisa menggunakan sebagian rezeki kita untuk bersedekah atau membantu saudara-saudara yang membutuhkan,” ujarnya.
Tausiah yang disampaikan oleh Nurhayati ini merupakan bagian dari program syiar Ramadhan yang diselenggarakan oleh MAN 2 Bantul melalui media digital. Program ini bertujuan untuk memberikan penguatan nilai-nilai keislaman kepada siswa sekaligus memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwah yang lebih luas.
Dengan memanfaatkan platform YouTube, materi tausiah dapat diakses dengan mudah oleh siswa, guru, serta masyarakat umum kapan saja dan di mana saja. Hal ini menjadi salah satu bentuk inovasi madrasah dalam menyampaikan pesan-pesan keislaman yang relevan dengan perkembangan zaman.
Program tausiah Ramadhan yang diselenggarakan oleh MAN 2 Bantul diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi para siswa untuk menjalani bulan suci dengan lebih bermakna. Melalui materi yang disampaikan, siswa tidak hanya diajak untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga untuk membangun karakter yang kuat, terutama dalam hal pengendalian diri dan kesederhanaan.
Melalui tausiah bertema “Ujian Menahan Nafsu Belanja di Bulan Ramadhan”, Nurhayati mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum refleksi diri. Dengan belajar menunda keinginan dan mengendalikan hawa nafsu, seseorang tidak hanya menjadi pribadi yang lebih bijak dalam mengelola kehidupan, tetapi juga mampu menjalani Ramadhan dengan penuh makna dan keberkahan.






