Bantul – Guru MAN 2 Bantul, termasuk Khuzaifah, mengikuti pelatihan inovatif bertajuk “Pesantren Anti-Bullying” yang diselenggarakan secara daring melalui platform MOOC Pintar Kementerian Agama. Pelatihan ini berlangsung selama lima hari, mulai 25 hingga 29 Oktober 2025, menghadirkan narasumber dari Loka Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan Pekanbaru.
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru tentang pencegahan bullying di lingkungan pesantren dan madrasah, sekaligus membekali mereka dengan strategi efektif dalam menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman bagi seluruh santri. Materi yang diberikan mencakup identifikasi perilaku bullying, penanganan konflik, pembentukan budaya empati, serta penguatan komunikasi positif antara guru dan siswa.
Khuzaifah, salah satu peserta aktif dari MAN 2 Bantul, menyampaikan antusiasmenya terhadap kegiatan ini. “Pelatihan ini sangat membuka wawasan kami tentang pentingnya menciptakan lingkungan pesantren yang bebas dari intimidasi. Kami juga belajar bagaimana menangani kasus bullying secara tepat tanpa menimbulkan trauma bagi korban maupun pelaku,” ujarnya.
Narasumber dari Loka Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan Pekanbaru menekankan pentingnya peran guru sebagai fasilitator dan teladan bagi santri. Materi dilengkapi dengan studi kasus, simulasi interaktif, dan diskusi kelompok yang membuat guru lebih mudah memahami dinamika bullying di lingkungan pesantren. Pendekatan berbasis empati dan komunikasi yang sehat menjadi fokus utama dalam setiap sesi pelatihan.
Pelatihan ini juga mendorong guru untuk membuat program anti-bullying di madrasah masing-masing. Khuzaifah dan rekan guru MAN 2 Bantul berencana menerapkan beberapa strategi, seperti penyuluhan rutin, pembentukan tim konselor sebaya, serta kegiatan kreatif yang memupuk kerja sama dan rasa saling menghargai antar siswa.
Kepala MAN 2 Bantul, Nur Hasanah Rahmawati, memberikan apresiasi tinggi atas partisipasi guru dalam pelatihan ini. Ia menyatakan bahwa kegiatan seperti ini sejalan dengan visi madrasah untuk membentuk generasi santri yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga memiliki karakter unggul. “Kami bangga guru MAN 2 Bantul aktif mengikuti pelatihan ini. Langkah ini akan memperkuat upaya madrasah dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan,” ujar Nur Hasanah.
Lebih lanjut, Nur Hasanah menegaskan pentingnya kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua dalam membangun budaya anti-bullying. Dengan pemahaman dan komitmen yang sama, madrasah dapat menjadi ruang yang mendukung pertumbuhan karakter santri, sekaligus menyiapkan mereka menjadi generasi yang peduli dan toleran. Pelatihan Pesantren Anti-Bullying melalui MOOC Pintar Kemenag ini tidak hanya memperluas wawasan guru MAN 2 Bantul tetapi juga menjadi langkah strategis dalam memajukan pendidikan karakter di lingkungan pesantren dan madrasah secara keseluruhan.






