TELIKSANDI
NEWS TICKER

Lestarikan Tradisi Turun Temurun, Warga Desa Sendangwuni Bongagung Sragen Menggelar Ritual Merti Desa

Rabu, 17 Juni 2026 | 12:54 pm
Reporter:
Posted by: khusus redaksi
Dibaca: 24

SRAGEN – Para tokoh tersohor menyebut dalam sentilan filosofi, bilamana suatu daerah atau tempat mulai melupakan tradisi dan budaya diklaim permulaan sebuah rusaknya nilai-nilai moral maupun tatanan. Seperti halnya masyarakat Jawa pada umumnya yang tak bisa lepas dari budaya dan tradisi leluhur yang sudah mendarah daging di tubuh.

Terlepas dari apa keyakinan yang dianut, Islam, Hindu ataupun Budha, keyakinan masyarakat akan keberadaan leluhur sudah diakui. Hal itu merujuk pada keyakinan animisme dan dinamisme yang sudah dianut masyarakat jauh sebelum agama mulai masuk ke pulau Jawa.

Bagi masyarakat Jawa, keyakinan yang mereka anut adalah keyakinan yang benar. Saat mereka memberikan sesaji atau penghormatan kepada leluhur tak lain merupakan hubungan timbal balik hinga sebuah simbolis. Dan istilah ritual Dekahan tentunya bukan hal yang asing lagi. Ritual Dekahan sendiri merupakan wujud kebudayaan yang hingga kini dilestarikan secara turun temurun. Secara prosesi, sebenarnya ritual Dekahan tidak berbeda jauh dengan ritual-ritual Jawa lainnya seperti Suranan, Muludan dan Syawalan.

Contoh apa yang menjadi tradisi di Desa Sendangwuni RT 15 dan RT 16, Bonagung, Tanon Kabupaten Sragen Jawa Tengah ini. Kegiatan ritual merti desa dengan melibatkan warga dua dukuh ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur, karena kehidupan kurun setahun sebelumnya diberikan banyak rejeki dan kesehatan dari Sang Pencipta. Salah satunya adalah nikmat panen hasil pertanian selama setahun ini. 

Bentuk warisan sejarah dan akulturasi budaya dan agama inipun terjadi hingga melahirkan tradisi di Desa Sendangwuni yang bisa dinikmati hingga sekarang. Bahkan, beberapa tradisi sengaja dilestarikan dengan cara menggelar ritual adat secara rutin pada tanggal atau bulan-bulan tertentu.

Salah satu sesepuh Desa yang mengimami esensi ritual, Suroso (72) menyampaikan, Dekahan Desa dituangkan dengan memanjatkan doa kepada Tuhan agar diberi keselamatan dan kesejahteraan. Dimana, ritual ini merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang yang patut dilestarikan. Ritual Dekahan ini bertempat dilokasi sumur tua akrab disebut Sumur Kawak atau Sendang Wuni.

“Syukuran sedekah bumi atau dekahan desa ini rutin di selenggarakan setiap tahun sekali setelah panen padi. Tempatnya ya di area sendang ini sejak leluhur-leluhur dulu. Soal adanya sumur sejak ada dari dulu, bisa juga dari jaman para wali,” ungkapnya, Rabu (17/6/26).

Dia menyebut nenek moyang dulu menganggap bahwa tanah merupakan pahlawan yang mempunyai jasa besar bagi keberlangsungan kehidupan manusia khususnya para petani desa. Karena jasa yang besar itulah, wajib bagi manusia untuk menggelar ritual Dekahan sebagai bentuk ungkapan terimakasih dan penghargaan kepada tanah atau bumi.

Oleh masyarakat Desa Sendangwuni, moment ritual Dekahan ini juga sebagai tempat untuk berkumpul dan saling bertukar pikiran satu dengan yang lainnya. Warga desa yang erat dengan sikap gotong royong dan saling membantu bisa menambah solidaritas antar warga sehingga dapat membentuk sebuah keharmonisan.

“Semoga ritual Dekahan ini bisa menjadikan masyarakat hidup berdampingan damai sentosa. Karena secara umum, tujuan di digelarnya ritual di Sendang ini untuk memohon keselamatan dan kebahagiaan. Bagi masyarakat, ritual Dekahan ini dilakukan untuk “menyelameti” atau “menyedekahi” sawah atau ladang yang dimiliki. Karena pada dasarnya, semua rezeki yang bersumber dari Allah SWT. Selain itu, ritual Dekahan juga dipercaya bisa mendatangkan kebaikan bagi tanah yang telah “diselameti” khususnya ditempati,” tambahnya.

Menurut kepercayaan di Desa Sendangwuni, melestarikan ritual Dekahan ini ada bukan tanpa tujuan, pasalnya kegiatan ini digelar untuk mengingatkan manusia agar senantiasa mengingat dan tak lupa dengan asal usulnya. Hal tersebut diungkapkan dengan dasar karena tak menutup kemungkinan ketika manusia semakin jauh melangkahkan kaki dari asalnya, maka ia akan semakin rentan untuk melupakan tradisi dan budaya yang dibentuk oleh leluhurnya.

Puncak ritual Dekahan itupun biasanya ditutup dengan doa bersama yang tentunya juga dipimpin oleh sesepuh desa dirumah setiap Ketua RT. Namun, jika ditelisik lebih dalam terdapat keunikan dalam doa yang dilantunkan dalam ritual Dekahan. Pasalnya, dalam lantunan doa tersebut ada kolaborasai antara lantunan kalimat-kalimat Jawa yang dipadukan dengan doa-doa bernuansa Islami.

“Jika dilihat dari segi etimologi, ritual Dekahan ini tradisi yang tidak berbeda jauh dengan Kenduri. Dimana, dengan berbagai jenis makanan sebagai simbolis. Selain itu, ritual Dekahan ini dimulai pada pagi hari pukul 06.00 WIB lokasi di Sendang atau sumur kawak, sorenya ditempat Ketua RT ,” Jelas Suwahyo salah satu tokoh warga setempat.

Masih menurutnya, selain tumpeng dan ayam ingkung sebagai makanan utama, sebagai pelengkap sarana ritual Dekahan juga turut disediakan pisang, bunga ritual dan sebagainya. Masyarakat percaya, bahwa bawaan yang disajikan merupakan landasan untuk memanjatkan doa. Ritual dekahan atau sedekah bumi sudah berlangsung sejak turun temurun digelar satu tahun sekali, setelah panen padi. Seperti tahun sebelumnya, selamatan ini selalu digelar bertepatan musim peralihan, yakni dari musim penghujan ke musim kemarau dan lokasinya di Sendang Kawak atau Sumur Sendangwuni yang keramat itu. 

“Ritual disini dari dulu sederhana mas, tapi bagi kami dengan tradisi ini kami menghormati para leluhur. Kami berharap tradisi unik ini bisa terus digelar rutin setiap tahun dan sekaligus sebagai upaya melestarikan budaya ungkapan rasa syukur setelah panen padi,” ujarnya. ( Awi )

Share this:

[addtoany]

Berita Lainnya

AWPI PERS GUARD - TELIKSANDI.ID