TELIKSANDI
NEWS TICKER

Panggunge Cah Suwung: Adigang, Adigung, Adiluhung

Minggu, 28 Desember 2025 | 9:11 am
Reporter:
Posted by: admin
Dibaca: 222

Boyolali | Teliksandi id – Bayu, warga Boyolali, bingung mencari panggung, ia bukan orang baru di dunia tambang. Bertahun-tahun ia malang melintang di sektor yang keras, penuh risiko, dan sarat kepentingan.

Namun kini suwung, Bayu bersama para loyalisnya berada di satu titik yang membingungkan: mencari jati diri sekaligus mencari panggung.

Dalam keterangannya ke media, Bayu menyebut dirinya terzholimi. Ia merasa dipinggirkan, disisihkan, bahkan dizalimi oleh keadaan dan kekuasaan.

Klaim yang di lontarkan oleh Bayu itu di ucapkan dengan nada lirih, seolah ia adalah korban dari sistem yang dulu justru membesarkannya.

Panggunge Cah Suwung: Adigang, Adigung, Adiluhung, publik bertanya-tanya?

dizalimi oleh siapa, dan dalam konteks apa? Sebab ketika seseorang sudah lama hidup nyaman di dalam “kandang kekuasaan”, lalu tiba-tiba keluar sambil berteriak dizalimi, wajar jika rakyat kecil mengernyitkan dahi.

Bayu kini tampak seperti cah suwung sing metu saka kandang, bingung golek panggung. Berjalan ke sana ke mari, menyapa media, menyusun narasi, berharap simpati, mencari inspirasi dan imajinasi.

Sayangnya, yang terlihat bukan keberanian melawan ketidakadilan, melainkan suwung dalam arti mendalam sebuah kegelisahan kehilangan peran.

Opini publik tidak mudah digiring. Rakyat sudah terlalu sering disuguhi drama elite yang berubah posisi, lalu mengaku korban. Jika benar dizalimi, buktikan dengan data dan keberpihakan yang nyata.

Jika hanya ingin panggung baru, publik sudah lelah menjadi penonton. Karena pada akhirnya, panggung sejati bukan milik mereka yang paling keras berteriak, tetapi milik mereka yang konsisten berpihak, bahkan saat lampu sorot dimatikan gelap hampa sepi sunyi dalam kesendirian lebih mendalam lagi untuk diartikan dengan kata Suwung. (Red/MSarman)

Share this:

[addtoany]

Berita Lainnya

AWPI PERS GUARD - TELIKSANDI.ID