TELIKSANDI
NEWS TICKER

Guru Pendidikan Pancasila MAN 2 Bantul Ikuti MGMP DIY: Bedah Perubahan Capaian Pembelajaran Menuju “Pembelajaran Mendalam”

Rabu, 13 Agustus 2025 | 11:11 pm
Reporter:
Posted by: Jo Han
Dibaca: 271

Bantul (5/8/2025) – Dalam upaya meningkatkan kompetensi guru dan memastikan pembelajaran Pendidikan Pancasila yang relevan dengan perkembangan kurikulum terbaru, dua guru Pendidikan Pancasila MAN 2 Bantul, yaitu Edi Susanto, S.H., Gr. dan Edi Sumarno, S.Pd., mengikuti Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Pancasila Madrasah Aliyah DIY yang digelar pada Selasa, 5 Agustus 2025 di MAN 2 Yogyakarta.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 14.00 WIB ini mengusung tema “Pembelajaran Mendalam”, menghadirkan narasumber Dr. Ir. Arif Bintoro Johan, M.Pd., MCE., MCF., seorang akademisi sekaligus praktisi pendidikan yang dikenal luas dalam pengembangan pembelajaran berbasis capaian kompetensi.

Kepala MAN 2 Bantul, Nur Hasanah Rahmawati, S.Ag., M.M., menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap keikutsertaan guru-guru dalam forum MGMP ini. “Partisipasi aktif guru dalam MGMP adalah salah satu wujud komitmen kami untuk selalu memperbarui wawasan, memperdalam pemahaman terhadap kurikulum, serta menghadirkan proses belajar yang bermakna bagi peserta didik. Kami berharap hasil dari kegiatan ini dapat diimplementasikan di kelas, sehingga Pendidikan Pancasila menjadi lebih hidup dan kontekstual,” ujarnya.

Fokus utama MGMP kali ini adalah membedah perubahan Capaian Pembelajaran (CP) untuk mata pelajaran Pendidikan Pancasila di tingkat Madrasah Aliyah. Perubahan ini merupakan tindak lanjut dari kebijakan kurikulum nasional yang menekankan pada higher order thinking skills (HOTS), penguatan karakter, dan penguasaan nilai-nilai Pancasila secara aplikatif.

Dalam pemaparannya, Dr. Arif Bintoro Johan menegaskan bahwa pembelajaran Pancasila tidak boleh hanya berhenti pada penguasaan materi semata, tetapi harus mampu membentuk cara berpikir kritis, kesadaran moral, dan kepedulian sosial siswa. “Pembelajaran mendalam berarti guru dan siswa sama-sama terlibat dalam proses memahami, mengkritisi, dan mengaplikasikan nilai Pancasila dalam kehidupan nyata. Ini bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi transformasi sikap dan perilaku,” ungkapnya.

Beliau juga mengajak guru untuk memanfaatkan metode pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), studi kasus, serta pendekatan kolaboratif agar siswa dapat mengalami langsung penerapan nilai-nilai Pancasila di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Selain sesi paparan materi, MGMP ini juga memberikan ruang bagi guru-guru untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman mengenai praktik terbaik (best practices) dalam mengajar Pendidikan Pancasila. Edi Susanto dan Edi Sumarno aktif memberikan masukan, terutama terkait integrasi pembelajaran Pancasila dengan isu-isu aktual seperti literasi digital, kepemimpinan pemuda, dan penguatan toleransi antarumat beragama.

“Forum seperti ini sangat penting karena kami bisa mendapatkan perspektif baru dari rekan-rekan guru di berbagai madrasah. Banyak ide yang bisa langsung diterapkan di kelas, misalnya membuat proyek layanan masyarakat sebagai bentuk penerapan sila-sila Pancasila,” ungkap Edi Sumarno seusai kegiatan.

Sementara itu, Edi Susanto menambahkan bahwa perubahan CP menuntut guru untuk lebih kreatif dalam merancang asesmen. “Tidak hanya ujian tertulis, tetapi juga penilaian berbasis kinerja (performance assessment) yang bisa mengukur kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan berdasarkan nilai Pancasila,” jelasnya.

Keikutsertaan guru-guru MAN 2 Bantul dalam MGMP ini menjadi bukti nyata komitmen madrasah untuk terus berinovasi dalam proses pembelajaran. Kepala madrasah menegaskan bahwa hasil kegiatan akan ditindaklanjuti melalui diskusi internal guru mata pelajaran, sehingga strategi dan pendekatan pembelajaran yang diperoleh dapat diadaptasi sesuai karakteristik siswa di MAN 2 Bantul.

“Pendidikan Pancasila memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan berkarakter. Oleh karena itu, setiap guru harus siap menghadapi tantangan zaman dan memastikan nilai Pancasila tetap relevan di tengah perkembangan global,” tegas Nur Hasanah Rahmawati.

Kegiatan MGMP ini ditutup dengan kesepakatan bersama untuk membentuk kelompok kerja kecil yang akan merumuskan perangkat pembelajaran Pendidikan Pancasila berbasis CP terbaru. Harapannya, dokumen ini dapat menjadi panduan praktis bagi guru-guru di seluruh MA DIY dalam mengimplementasikan pembelajaran mendalam.

Dengan adanya sinergi antara guru, madrasah, dan komunitas MGMP, Pendidikan Pancasila diharapkan tidak hanya menjadi mata pelajaran wajib di kurikulum, tetapi juga menjadi spirit yang menjiwai seluruh aktivitas pendidikan di madrasah. (Edi S.)

Share this:

[addtoany]

Berita Lainnya

AWPI PERS GUARD - TELIKSANDI.ID