TELIKSANDI
NEWS TICKER

Guru Sejarah MAN 2 Bantul Dalami Kontroversi Gelar Pahlawan Soeharto Bersama Pakar Nasional  

Senin, 10 November 2025 | 4:18 pm
Reporter:
Posted by: Jo Han
Dibaca: 68

Yogyakarta — Minggu (09/10/25). Sosok Presiden Soeharto kembali menjadi sorotan publik. Isu tentang pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada tokoh Orde Baru itu memicu perdebatan hangat di berbagai kalangan, termasuk para akademisi dan sejarawan. Salah satu kegiatan yang menyoroti tema tersebut adalah Diskusi Publik “Pro Kontra Pemberian Gelar Pahlawan Soeharto”, yang digelar oleh Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI).

Acara yang menghadirkan tiga narasumber nasional ini berlangsung penuh antusiasme. Hadir sebagai pembicara utama yakni Dr. Anhar Gonggong, M.A., sejarawan senior; Kolonel Caj. Dr. Kusuma, M.Si., perwira TNI dan akademisi; serta Prof. Dr. Asvi Warman Adam, peneliti sejarah dari LIPI yang dikenal kritis dalam isu-isu nasional.

Diskusi dilaksanakan secara daring melalui ruang zoom dan live youtbe, kegiatan ini juga diikuti oleh guru Sejarah MAN 2 Bantul, Sri Suharyanti, S.Pd., yang aktif mengikuti jalannya diskusi. Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan pembelajaran sejarah di madrasah. “Diskusi ini membuka wawasan baru bagi saya sebagai pendidik. Siswa perlu diajak melihat sejarah dari berbagai sudut pandang, agar tidak terjebak dalam narasi tunggal,” ungkapnya.

Dalam paparannya, Dr. Anhar Gonggong menegaskan bahwa setiap tokoh sejarah memiliki sisi jasa dan sisi masalah. “Soeharto punya andil besar dalam pembangunan dan stabilitas nasional, tetapi juga meninggalkan persoalan yang harus dikaji secara jujur,” ujarnya.

Sementara itu, Kolonel Kusuma menyoroti peran Soeharto dalam menjaga keutuhan bangsa pasca tragedi G30S 1965. Ia menilai jasa tersebut tidak bisa diabaikan dalam menilai kontribusi Soeharto bagi negara.

Namun, Prof. Asvi Warman Adam mengambil posisi berbeda. Ia menilai pemberian gelar pahlawan harus mempertimbangkan nilai demokrasi dan hak asasi manusia. “Menulis sejarah bukan untuk memuliakan tokoh, tapi untuk menempatkan kebenaran pada tempatnya,” tegasnya.

Bagi Sri Suharyanti, pengalaman mengikuti diskusi publik ini akan menjadi bahan refleksi dan inspirasi dalam proses pembelajaran sejarah di kelas. “Saya ingin mengajak siswa berpikir kritis, melihat bahwa sejarah selalu punya banyak sisi,” tambahnya.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang berbagi pandangan antar sejarawan dan akademisi, tetapi juga menunjukkan bahwa semangat mengkaji sejarah secara objektif masih hidup di kalangan pendidik. Melalui partisipasi aktif guru seperti Sri Suharyanti, dunia pendidikan ikut berkontribusi menjaga nalar kritis dan kejujuran dalam memahami perjalanan bangsa.

Share this:

[addtoany]

Berita Lainnya

AWPI PERS GUARD - TELIKSANDI.ID