TEGAL – Warga dan pelaku wisata setempat mengeluhkan penurunan kunjungan wisatawan ke kawasan wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, dalam beberapa waktu terakhir. Mereka menilai banyaknya pungutan tiket dalam satu kawasan serta penerapan kebijakan pembayaran non-tunai menggunakan QRIS dan transfer antar bank (22/1/2026).
Warga dan pelaku wisata memperkirakan jumlah pengunjung sekarang tidak sebanyak periode yang sama pada tahun lalu. Jika sebelumnya kawasan wisata Guci relatif ramai, terutama pada akhir pekan dan musim libur, kini suasana sepi kerap terjadi bahkan di hari libur.
Di kalangan masyarakat dan wisatawan, julukan “wisata seribu tiket” kerap melekat pada Wisata Guci. Sebutan ini muncul karena wisatawan harus membayar banyak tiket untuk mengakses berbagai titik wisata yang sebenarnya masih berada dalam satu kawasan. Istilah tersebut bukan merupakan nama sistem atau kebijakan resmi, melainkan ungkapan yang berkembang di tengah masyarakat.
“Banyak pengunjung mengeluh. Baru masuk sudah bayar, parkir bayar, masuk spot lain bayar lagi. Akhirnya mereka memilih pulang atau mencari wisata lain,” ujar seorang pedagang di kawasan wisata Guci.
Selain persoalan tiket, warga dan pelaku wisata menilai kebijakan pembayaran wajib menggunakan QRIS menjadi kendala tersendiri, khususnya bagi wisatawan lanjut usia dan pengunjung dari wilayah pedesaan yang masih terbiasa menggunakan uang tunai. Tidak sedikit pengunjung yang batal masuk karena tidak memiliki aplikasi pembayaran digital atau saldo yang mencukupi. Warga menilai kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi di sekitar kawasan wisata.

Pelaku usaha lokal, seperti ojek wisata, pedagang kecil, dan pelaku UMKM, merasakan langsung dampak penurunan jumlah wisatawan tersebut. Mereka mengaku pendapatan menurun cukup signifikan, bahkan pada hari-hari tertentu hampir tidak mendapatkan penghasilan.
Rudi, yang berprofesi sebagai tukang ojek wisata di kawasan Guci, mengaku turut terdampak kondisi tersebut.
“Sekarang pengunjung banyak mengeluh, apa-apa serba bayar. Masuk bayar, ke lokasi lain bayar lagi. Akhirnya wisatawan berpikir dua kali untuk datang,” ujar Rudi saat ditemui di pangkalan ojek wisata Pancuran 13.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Tegal bersama Dinas terkait, dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan kawasan wisata Guci.
“Kami tidak menolak aturan, tetapi kami berharap kebijakan yang diambil benar-benar berpihak pada pengunjung dan warga. Kalau wisatanya hidup, ekonomi masyarakat juga ikut hidup,” pungkas seorang warga.
Sejumlah aspirasi yang mereka sampaikan antara lain menyederhanakan sistem tiket menjadi satu pintu, memberikan fleksibilitas metode pembayaran dengan tetap menyediakan opsi tunai.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah daerah maupun pengelola kawasan wisata Guci belum memberikan tanggapan resmi atas keluhan warga tersebut.
Red/Heri






