Silaturahim Untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dulu disebut Negara Nusantara

Ditulis oleh : Drs. Sarani [ Pemerhati Sejarah Dan Budaya Nasional]
Sekitar abad ke VIII Masehi 1300 tahun yang lalu raja dinasti Sailendra Bala Putra Tungga Dewa kembali kekampung halamannya di kaki Gunung Raya dan Gunung Kerinci persisnya di sebuah kota Raja, kota yang selama ini tertidur berabad – abad tanpa cerita . apa gerangan hal ini bisa terjadi !.
Dia adalah kota Kumau atau Pagaruyung Darul Aman { kota yang seaman – amannya }. Kumau tertulis didalam prasasti Karang Birohi, prasasti Sriwijaya yang terdapat di hulu sungai Batanghari persisnya di Desa Pupit kabupaten Merangin Provinsi Jambi . Orang yang menulis Kumau dalam prasasti Karang Birohi adalah Ayahanda Bala Putra Tungga Dewa sendiri. Antara lain bunyinya Sido Kitap Kumau Ari Awa yang artinya Sido membuat kitab Kumau mulai dari awal itulah dia prasasti Karang Birohi. Kumau merupakan bahasa masa lampau yang artinya : Ku umumkan, itulah pengumuman yang selama ini di klaim sebagai prasasti Sriwijaya. Sementara Sido artinya : Beliau , sebuah sebutan kehormatan. Kata Sido setara atau sama artinya dengan kata Kayo dalam bahasa Kerinci. Sido dan Kayo yang setara dalam arti tetapi berbeda dalam pemakaiannya didalam bahasa komunikasi. Apabila beliau yang kita maksud ada didepan mata maka orang tersebut dipanggil dengan sebuatan Kayo dan apabila yang dimaksud tidak didepan mata maka di sebut Sido. Kayo adalah sebutan untuk orang yang lebih tua atau lebih dimuliakan.
Bala Putra Tungga Dewa adalah raja dinasti Sailendra. Dia memberikan tahta kerajaan kepada adiknya Bala Putri Tungga Dewi. Diserahkannya tahta tersebut dengan ikhlas, karena Ikhlas adalah filosofi kerajaan Kuntala yang disebut orang Sriwijaya. Ke ikhlasan tersebut dituangkan Bala Putra Tungga Dewa didalam prasasti yang terdapat di Kumau yang kini disebut Kumun Debai di Kota Sungai Penuh Kerinci. Pada prasasti ada relif tulang belakang dan tulang rusuk manusia yang dibuat secara utuh yang artinya memberikan kekuasaannya kepada Bala Putri Tungga Dewi. Pada ujung relif ini ada relif Yoni artinya Bala Putri Tungga Dewi. Selanjutnya relif gong beberapa buah yang artinya kekuasaan, relif manusia kangkang yang artinya penguasa. { Silaturahim 1}





