Bantul — Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat mendorong guru untuk terus meningkatkan kompetensi digital sekaligus memahami etika dalam pemanfaatannya. Hal tersebut diwujudkan oleh guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) MAN 2 Bantul, Khuzaifah, dengan mengikuti Webinar Jogja Belajar seri #8 yang mengangkat tema “Etika Penggunaan AI dan Teknik Prompting.”
Webinar diselenggarakan oleh Balai Tekkomdik pada Rabu, 19 Agustus 2026, pukul 13.00–15.00 WIB. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom untuk 100 peserta pertama serta disiarkan secara langsung melalui YouTube Jogja Belajar. Webinar ini merupakan bagian dari upaya Balai Tekkomdik dalam meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan agar semakin siap menghadapi transformasi pendidikan di era digital.
Kegiatan menghadirkan Ditta Wahyu Utami guru SMPN 1 Cipeundeuy, Subang, Jawa Barat, sekaligus penulis buku Menyongsong Era Baru Pendidikan: Pengembangan Kompetensi TIK Guru Berdasarkan UNESCO ICT Competency Framework for Teachers. Kehadiran narasumber memberikan wawasan praktis mengenai bagaimana AI dapat dimanfaatkan secara tepat dalam mendukung aktivitas pendidikan.
Dalam pemaparannya, peserta diajak memahami bahwa penggunaan AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan berbagai aplikasi, tetapi juga membutuhkan kesadaran etis. Guru perlu mempertimbangkan keakuratan informasi, privasi, tanggung jawab, serta tujuan penggunaan AI agar teknologi benar-benar memberikan manfaat bagi proses pembelajaran.
Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah teknik prompting. Kemampuan menyusun instruksi atau perintah yang tepat kepada AI menjadi keterampilan penting agar teknologi dapat menghasilkan respons yang sesuai dengan kebutuhan. Bagi guru, teknik tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu menemukan ide pembelajaran, menyusun aktivitas kelas, mengembangkan bahan ajar, hingga merancang evaluasi secara lebih efektif.
Khuzaifah menyampaikan bahwa webinar tersebut memberikan wawasan yang sangat relevan dengan kebutuhan guru saat ini. Menurutnya, AI dapat menjadi mitra produktif bagi pendidik selama digunakan secara bijak dan tetap menempatkan guru sebagai pengendali utama proses pembelajaran.
“AI memberikan banyak peluang untuk membantu guru bekerja lebih efektif. Namun, pemanfaatannya harus tetap beretika, kritis, dan bertanggung jawab. Guru perlu memahami cara memberikan prompt yang baik agar hasil yang diperoleh benar-benar sesuai kebutuhan pembelajaran,” ungkap Khuzaifah.
Ia juga melihat bahwa pemanfaatan AI dapat mendukung pembelajaran SKI menjadi lebih kreatif dan kontekstual. Teknologi dapat membantu guru mengembangkan berbagai ide aktivitas belajar tanpa menghilangkan nilai-nilai karakter, keteladanan, dan substansi materi sejarah Islam.
Partisipasi Khuzaifah dalam webinar tersebut mendapat apresiasi dari Kepala MAN 2 Bantul, Nur Hasanah Rahmawati. Ia menyampaikan bahwa peningkatan kompetensi digital guru merupakan bagian penting dalam menghadapi perubahan pendidikan.
“Kami sangat mengapresiasi semangat mbak Khuza untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan teknologi. Pemanfaatan AI harus diiringi etika, tanggung jawab, dan kemampuan guru dalam memilah informasi,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Khuzaifah semakin memperkuat komitmennya untuk menjadi pendidik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Webinar Etika Penggunaan AI dan Teknik Prompting menjadi salah satu langkah untuk menghadirkan pembelajaran yang inovatif, efektif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai pendidikan. (khz)






