Bantul (MAN 2 Bantul) – Upaya memperkuat budaya peduli lingkungan terus dikembangkan MAN 2 Bantul melalui Workshop BANAFIT (Pemanfaatan Ban Bekas untuk Sarana Olahraga). Kegiatan yang berlangsung Jumat (7/8/2026), pukul 08.00–11.00 WIB, di Aula MAN 2 Bantul tersebut mengangkat inovasi pengolahan ban bekas menjadi sarana olahraga yang fungsional, aman, dan memiliki nilai edukatif. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata penguatan Program Adiwiyata di lingkungan madrasah.
Workshop melibatkan Kader Adiwiyata dan Pengurus OSIM MAN 2 Bantul Periode 2025/2026. Proses kegiatan mendapatkan pendampingan dari tim guru yang terdiri atas Arif Setyawan, S.Pd. Jas., Edi Susanto, SH., Gr., Puji Lestari, S.Pd., Irani Trisnanda, S.Pd., R. Hardi Santoso, S.Pd., dan Yanuanita Widyaningrum, S.Pd. Keterlibatan peserta dan guru pendamping diarahkan pada pembelajaran berbasis praktik dengan memadukan kepedulian lingkungan, kreativitas, keterampilan, serta kerja sama.
Workshop menghadirkan Rochmad Fajarudin, S.Or., dari MTsN 4 Gunungkidul sebagai narasumber. Materi yang diberikan mencakup berbagai teknik pemanfaatan ban bekas sebagai media olahraga. Sarana tersebut dapat digunakan untuk menunjang kebugaran sekaligus melatih koordinasi gerak, keseimbangan, kelincahan, dan variasi aktivitas dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani. Selain memberikan penjelasan mengenai konsep dan manfaat pengolahan limbah, narasumber juga memperagakan secara langsung tahapan pembuatan sarana olahraga berbahan ban bekas.
Kepala MAN 2 Bantul, Hj. Nur Hasanah Rahmawati, S.Ag., M.M., menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak sebatas diwujudkan melalui penghijauan dan pengelolaan sampah. Upaya tersebut juga dapat dikembangkan melalui kreativitas dalam memanfaatkan kembali barang bekas yang masih mempunyai nilai guna. Workshop BANAFIT menjadi salah satu bentuk pendidikan lingkungan yang mendorong tumbuhnya karakter kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.
Pelaksanaan BANAFIT sekaligus selaras dengan upaya MAN 2 Bantul mengembangkan pembelajaran kontekstual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pengolahan ban bekas menjadi sarana olahraga memberikan gambaran bahwa material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah masih dapat memiliki fungsi baru apabila diolah melalui ide, keterampilan, dan kreativitas yang tepat.
Antusiasme peserta terlihat selama seluruh rangkaian kegiatan. Materi tidak hanya diarahkan pada keterampilan teknis pembuatan media olahraga, tetapi juga memperkuat pemahaman mengenai penerapan prinsip reduce, reuse, recycle (3R). Melalui pendekatan tersebut, peserta didorong untuk memahami bahwa upaya menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana berupa mengurangi penggunaan material, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta mendaur ulang material menjadi produk yang bermanfaat.
Sesi praktik menjadi salah satu bagian utama workshop. Peserta secara langsung terlibat dalam merancang bentuk media, mengolah ban bekas, hingga menghasilkan sarana olahraga sederhana yang dapat digunakan dalam berbagai aktivitas kebugaran. Proses tersebut tidak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga membangun kemampuan bekerja sama dan semangat gotong royong.
Sarana olahraga hasil pemanfaatan ban bekas memberikan manfaat tambahan bagi madrasah. Media tersebut dapat digunakan dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, kegiatan ekstrakurikuler, permainan edukatif, maupun berbagai aktivitas pembinaan karakter yang berkaitan dengan kepedulian lingkungan. Inovasi ini menunjukkan bahwa pengembangan fasilitas pendidikan tidak selalu harus dilakukan melalui pengadaan barang baru, tetapi juga dapat memanfaatkan dan mengoptimalkan sumber daya yang telah tersedia.
Workshop BANAFIT memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan dapat dikembangkan melalui kegiatan yang kreatif, aplikatif, dan memberikan hasil nyata. (Edi Susanto)






