TELIKSANDI
NEWS TICKER

Tuntas Subagyo Gelar Wayang Kulit Wisanggeni Gugat

Minggu, 15 Februari 2026 | 11:05 pm
Reporter:
Posted by: admin
Dibaca: 57

Sukoharjo | Teliksandi.id – Menyambut Ruwahan dan Sadranan jelang puasa Ramadhan 1447H, pengusaha yang juga Ketua Umum Partai Kedaulatan Rakyat (PKR) Prof. Dr. (HC) Tuntas Subagyo, SAP., SM., BBA., MM., MH, MBA., P.hd, menggelar Wayang kulit dengan dalang Ki Djadmiko Anom Suroto Putro, di Taman Ratu Maulidya, Dukuh Tempel, desa Purbayan, Kecamatan Baki, Sukoharjo, Jumat (13-2-26) malam. Pagelaran wayang kulit disaksikan langsung, Tuntas Subagyo dan ratusan warga sekitar dengan cara lesehan di tikar itu mengambil lakon “Wisanggeni Gugat”.

Menurut Tuntas Subagyo, acara wayang kulit yang digelar merupakan rangkaian awal dari Safari Ramadhan desa Purbayan, yang akan laksanakan sampai setelah puasa.

“Rangkaian acara diawali dengan Ruwahan dengan Ringgit atau wayang kulit yang malam ini Insya Allah dilaksanakan dan tadi siang ada bersih desa khususnya di RW 02,” ujarnya.

Selain itu tambah dia di rangkaian kegiatan Ramadhan yakni pengajian Nuzulul Qur’an tanggal 16 Maret oleh Ustadz Kelik dari Siwal. “Kemudian malam takbiran nanti ada festival takbir di desa ini dan nanti ada hadiah menarik untuk apresiasi kepada pemenang festival takbir,” tuturnya.

Rangkaian kegiatan Ramadhan kata Tuntas lagi akan ditutup dengan halal bihalal yang akan dilaksanakan pada 29 Maret 2026. “Insya Allah kalau tidak ada perubahan akan ada tausiah agama diisi 2 penceramah dari Pekalongan dan Bojonegoro,” kara Tuntas Subagyo.

Pagelaran Wayang kulit dimulai setelah penyerahan sebuah wayang oleh Tuntas Subagyo kepada Ki dalang Djadmiko Anom Suroto Putro.

Terkait lakon Wisanggeni Gugat, menceritakan tentang Wisanggeni, putra Arjuna, yang menggugat kahyangan karena merasa tidak adil atas perlakuan para dewa. Wisanggeni memiliki kemampuan luar biasa dan keberanian yang membuatnya menjadi tokoh yang kuat.

Dalam cerita tersebut Wisanggeni melakukan tiwikrama menjadi raksasa atau buto dan mengamuk di kahyangan, membuat para dewa lari ketakutan, termasuk Batara Guru. Cerita ini juga menampilkan peran Kurawa sebagai antagonis, tetapi fokus utama adalah pada gugatan Wisanggeni terhadap kahyangan.

Suasana pagelaran sendiri berlangsung cukup meriah. Ratusan penonton yang berasal dari warga sekitar dan luar desa Purbayan menyaksikan dengan cara lesehan. Saat masuk lokasi pagelaran mereka diberi nasi kotak dan makanan tradisional seperti kacang tanah, ketela, jagung dan lainnya. (Uci/red)

Share this:

[addtoany]

Berita Lainnya

AWPI PERS GUARD - TELIKSANDI.ID