TEGAL, teliksandi.id – Ruas jalan Tanjakan Clirit yang berada di jalur utama menuju obyek wisata Guci, Kabupaten Tegal, mengalami ambles dan retak parah. Kerusakan terjadi di sekitar kawasan Clirit View, tepatnya pada ruas Kalibakung-Karangjambu (Clirit) dengan panjang terdampak kurang lebih 800 meter.
Retakan melintang membelah badan jalan di sejumlah titik dengan kedalaman berkisar antara 30 hingga 50 sentimeter. Kerusakan mulai terlihat sejak Selasa (10/2) dan terus memburuk hingga Kamis (12/2).
Akibat kondisi tersebut, arus lalu lintas dari arah Slawi menuju kawasan wisata Guci tersendat. Antrean kendaraan mengular hingga ratusan meter. Sejumlah bus pariwisata terpaksa memutar balik, sementara kendaraan pribadi dan sepeda motor harus melintas secara bergantian dengan ekstra hati-hati karena badan jalan mengalami penurunan signifikan.
“Sudah antre hampir satu jam. Tadi ada mobil yang tersangkut dan harus didorong bersama-sama,” ujar Wastori (41), warga Bumijawa yang hendak menuju Slawi.
Dampak kemacetan panjang mengganggu aktivitas pelajar dan pekerja yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
Babinsa Kalibakung Koramil 17 Balapulang Kodim 0712/Tegal, Sertu Krisbiantoro, menyebut pergeseran tanah akibat hujan deras menyebabkan badan jalan ambles. Ia menjelaskan, hujan turun mulai sejak sore hari dan semakin deras hingga sekitar pukul 18.00 WIB. Pada pukul 21.30 WIB, badan jalan mulai ambles untuk pertama kalinya, kemudian pergeseran susulan kembali menurunkan permukaan jalan sedalam 30–50 sentimeter.
Kepala Desa Kalibakung, Mujiono, S.T., mengatakan peristiwa ini mengingatkan pada kejadian serupa pada Februari 2021. Menurutnya, intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir meningkatkan debit air dan memicu retakan tanah di sekitar lokasi.
“Ya, siklusnya kali ini terasa lebih cepat. Intensitas hujan tinggi dalam beberapa hari terakhir membuat debit air sungai membesar dan mendorong keretakan tanah,” terang Mujiono.
Terpisah, Kepala DPUPR Kabupaten Tegal, Teguh Dwijanto Rahadjo, S.T., M.T., M.A., menyatakan pihaknya melakukan penanganan sementara dengan menguruk titik-titik patahan guna memperkecil perbedaan ketinggian jalan agar kendaraan tetap dapat melintas.
“Tanah masih belum stabil karena pergeseran masih terjadi sejak Selasa malam. Untuk sementara kami lakukan pengecekan kondisi patahan dan pengurukan agar kendaraan tetap bisa melintas. Itu langkah jangka pendek,” jelasnya.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat dan wisatawan yang hendak menuju kawasan Guci agar meningkatkan kewaspadaan serta mempertimbangkan jalur alternatif hingga kondisi jalan benar-benar dinyatakan aman.
Red: Widodo






